Terkadang mudah sekali untuk menutupinya. Aku merasa benar – benar menjadi sosok cerdas. Aku pemenang, sang penguasa dan pengendali hidupku. Namun, kerap kali wajahku surut, padam dan menangis menjijikan. Aku selalu ingin bernyanyi dan menari di atas bola dunia itu. Walau setiap aku mencoba berdiri, berjalan, lalu berlari sering kali aku terpeleset berdiri, berjalan, berlari di atas bola dunia itu. Aku sempat kesal dan melempar sepatu yang aku kenakan ke bola dunia itu, berharap ia menjadi bidang datar dan tidak licin, tapi ia terlalu kaku, angkuh dan tidak mau tahu. Ia tak diajarkan sopan santun dan pendidikan pancasila semasa ia sekolah, ia tidak mengerti akan toleransi dan suatu perikemanusiaan, ia sombong. Hidup yang berputar bak bola dunia itu sombong. Itu yang aku tahu dan itu yang aku rasa.
Aku benci penghianat, aku benci dalil yang tak sedalil, aku benci pendalil yang bertopeng dalil. Mereka lah yang membuat hidup itu sombong, kaku, angkuh, tak mau tahu dan bersikeras memposisikan dirinya sebagai bola dunia yang licin bahkan teramat licin. Andai hidup diciptakan selalu baik. Andai jalan hidup tak berliku dan andai orang jahat itu tidak ada. Aku tidak akan pernah membawa penghapus untuk berusaha menghapuskan namaku dalam catatan hidup itu, yang akan ku bawa adalah pisau tajam untuk mengukir namaku seindah, sebagus, dan setajam – tajamnya agar namaku tetap berada, terukir manis di hidup itu.
Awalnya aku pikir itu hanyalah lelucon pelepas lelah para petani seusai memanen padinya. Dan aku pikir hidup dan dunia tak sejahat itu dan masih ada orang baik yang bernafas dan berdiri tegak disana. Nyatanya yang ada justru orang yang tidak baik, tak terlalu baik, cukup baik, kurang baik yang hidup disana. Mereka hanya berpura – pura baik, hanya mengejar kemahkotaan sebuah prestise dan fisik, bertopeng malaikat berjubah amanat dan berhati sekarat. Mereka tidak beralaskan hati, mereka bagai tongkat besar bin ajaib yang selalu mencanangkan diri mereka hebat, yang selalu dengan lantang mengorasikan bahwa hanya mereka lah satu – satunya manusia yang layak berdiri di atas bola dunia itu.
Entah kenapa, entah apa, entah bagaimana ingin sekali rasanya meludah di depan mereka sepuas – puasnya, sekental – kentalnya, dan sebau – baunya. Mual, sakit dan bosan melihat segala gerak mereka. Aku memang lah bukan orang yang baik dan aku juga bukan lah orang yang tidak jahat. Aku hanya orang yang terbuang, sudah terbuang, terlalu terbuang dan sangat terbuang. Aku dikecewakan, tidak dikecewakan, bosan dikecewakan dan muak dengan teori pengecewaaan; bosan menghafalkan teori gravitasi kekecewaan, faktor – faktor dan dampak – dampak, rumus – rumus kimia yang mengikat diantara unsur – unsur tai kucing yang membaluti sekujur teori itu. Aku terbuang dan sengaja atau tak sengaja dibuang dikecewakan oleh para pendalil dan penjanji hidup. Berabad sudah aku membuat tangan yang berkekuatan sekuat tornado, berlumut sudah aku bereksperimen untuk memusnahkan mereka dengan tangan berkekuatan tornado itu. Aku ingin punya tangan yang memiliki kekuatan sebesar tornado agar bisa menampar memusnahkan menghilangkan mereka dari bola dunia nan hidup itu. Lalu aku akan membujuk merayu gombal yang tak gombal Tuhan untuk mau mengisi kembali dunia dan hidup itu dengan manusia berjiwa bersih dan berhati kasih........... ( absurditas #1, rizzahsyahida januari ’11 )
- 22.52
- 0 Comments