­
­

Tanda Kurung (Aku)

Ketika semuanya tidak akan pernah hilang, semua yang bagiku berharga, semua yang bagiku tak ada kata terlambat. Semuanya hilang, sudah tak berharga dan terlambat. Aku punya segudang huruf baik dan angka suci serta deret demi deret unsur hitung dan baca yang baik nan suci. Ternyata berjalan dengan dada membusung melelahkan dan bikin penyakit, dan duduk dengan kaki kanan di atas memegalkan. Sombong dengan kotoran itu sakit, penyakit dan menyakitkan. Bak lelaki yang terkurung wanita, wanita yang terkurung lelaki, dikurung, mengurung, dan segala macam kurung.
Pagi yang cerah dan merah. Ah, kenapa harus ada kata cinta yang terlontar. Mulut baik yang menjadi busuk atau mulut busuk yang menjadi baik. Entahlah, semuanya melelahkan. Setiap pagi aku terbangun dengan nadi tercengang. Hey, manusia langka! Kenapa hatimu Bangka? Katakan padaku, aku harus kemana dan bagaimana? Aku harus berguru kepada siapa agar kau mau berubah dari keterbangkaanmu itu? Berguru pada bapak ibu dosen di kampus? Ah bosan. Pada bapak ibu di rumah? Aku malu. Pada orang-orang sekitar? Sama saja dengan mengangkat pedang, mereka akan mentertawakanku. Aku harus kemana dan bagaimana? Aku takut kendil yang ku bawa ini pecah, nanti kalau pecah aku tak punya cinta lagi untuk mu. Pecah sama saja menumpahkan air di kendil dan membiarkan air itu mengalir kemana saja. Pecah sama saja menumpahkan cinta dan membiarkan cinta itu terbagi. Satu hal, aku tak ingin terbagi dan membagi. Aku pernah terluka karena tanda bagi. Jadi jelas tak mungkin aku memberikan dan membiarkanmu cinta dengan tanda bagi. Walau aku tahu kau suka sekali dengan tanda bagi itu.
Udara di pantai memang enak dan unik. Pasirnya pun tak kunjung marah walaupun aku injak berjam-jam. Lelah berjalan, aku memutuskan untuk duduk di pinggiran pantai. Bosan dengan rambut terikat, ku lepas karet yang mengikat rambutku. Ku hembuskan nafas kencang dan kembali berfikir. Kemana dan bagaimana lagi. Cinta harus dimengerti. Pengertian seperti apa yang diminta? Berbicara cinta memang tidak akan pernah habis, di setiap detik manusia pasti berbicara cinta. Entah cinta yang seperti apa, tidak tahu. Yang aku tahu, aku terjebak dalam pengertian cinta yang salah. Sedang aku cari kapan aku mulai salah memulai mengartikan pengertian cinta itu. Yang aku ingat, aku terkurung suatu keadaan yang benar amat sulit untuk aku robohkan dindingnya. Bagaimana tidak, aku dituntut untuk menjadi orang lain. Demi menyelamatkan dirinya agar tak cepat mati, semua yang dia katakan harus aku turuti. Jujur, aku takut dia meninggalkanku cepat. Jadi suka tidak suka, aku harus suka. Walau aku tahu, semua itu perlahan meredupkan cahaya yang menyelimutiku. Aku telah membuat marah Tuhan karena ketidakberdayaanku berani meredupkan cahaya tulus yang telah Tuhan ciptakan untukku seorang. Di tengah pikiranku yang kalut, Tuhan menamparku dengan menyuruh ombak untuk membanting sekujur tubuhku, aku menangis. Aku menangis semakin kencang, semakin kencang ketika aku tahu Tuhan benar-benar marah padaku. Kembali aku ingat huruf-huruf suci yang aku baca setiap hari bersama ayah tercinta sewaktu kecil. Ibu mendandaniku dengan kerudung merah jambu dan mencium keningku sembari berdoa jadilah wanita yang baik bagi Tuhan, jangan buat marah Tuhan, dan jangan sakiti Tuhan. Dengan wajah bercahaya, aku pun berkata iya dan menggapai tangan ayah. Ayah menggendongku sepanjang jalan dan bercerita betapa hebatnya Tuhan. Ayah mengatakan padaku Tuhan itu Superhero yang tak terkalahkan. Sejak saat itu, setiap mengaji aku selalu menulis di buku tulisku I Love You, My Superhero. Aku kira, aku akan selamanya seperti itu. Tidak membuat sakit dan marah Tuhan. Tapi semenjak aku mengartikan cinta dengan salah, aku mengecewakanNya. Maaf Tuhan.
Pengunjung pantai mulai berdatangan dan membuatku memutuskan untuk berdiri pulang. Ku lihat para pedagang pun mulai membuka lapaknya, raut muka yang siap memborong rezeki. Peluit tukang parkir mulai terdengar bising di telinga. Suasana sudah jauh berbeda dengan suasana pantai pagi buta tadi. Heningnya sudah berubah. Ombaknya pun sudah tak semarah sewaktu aku duduk disana. Pelan ku lenggangkan kakiku melangkah, muka yang ku lipat tadi perlahan ku buka lipatannya dan segera aku tersenyum seraya menyambut pagi pukul 09.00. Aku berangkat terlalu pagi ternyata, sampai tak sadar sepeda yang aku naiki tadi ternyata bocor. Mau tak mau aku harus menuntun sepeda lama sampai aku menemukan tukang tambal ban. Jalanan yang naik turun membuat nafasku mulai tak baik nadanya. Tapi tak sia-sia, di dekat toko kelontong yang belum buka akhirnya aku menemukan tukang tambal ban. Aku bersandar di tembok bengkel sambil menata kembali nada nafas yang tak baik tadi. Tak ada minuman, haus. Tak lama menunggu, aku sudah bisa mengendarai sepeda yang sempat bocor tadi. Ku tengok jam tangan yang baru aku beli kemarin di butik terkenal dekat kampusku, waktu menunjukan pukul 09.55. Ku buru sepeda yang aku naiki. Kembali aku membelokan pikiranku ke kegalauan yang akhir-akhir ini sering menyerangku ganas. Aku malas berangkat kuliah jam 11.00 nanti, rasanya sudah tak ada gairah lagi untuk menjadi seorang ilmuwan. Penggaris dan pensil sudah bukan lagi sahabat terbaikku, mereka lebih pantas monster-monster di komik atau film kartun di televisi-televisi sekarang. Sahabat terbaikku sekarang adalah tanda seru atau sepotong kue yang sudah kadaluarsa. Hidup sekarang lebih seperti lumpur hidup yang menghayutkan dan mematikan. Sulit atau malas untuk dilewati. Banyak orang yang buta tuli rasa dan moral, penyebar ketololan dan kebohongan akidah yang siap menghina orang menjadi sosok hina paling hina di mata pencipta hebatnya. Orang sudah tak bisa lagi menghindar meski berbagai macam bentuk pengaman diciptakan dan dikenakan. Hidup sudah hina dan termakan usia, sia-sia. Membuat marah Tuhan seperti sudah biasa, biasa.
Lama berfikir melayang berorasi protes, aku memasukan sepeda di garasi rumah dan menuju kamar, membanting tas dan mandi. Segar sekali rasanya bersatu dengan air, seperti lahir kembali dan bebas dari kotoran-kotoran hidup. Aroma bengkoang pun mengiringi kebebasan itu layak sang putri raja. Handuk merah jambu membalut kelikuan tubuhku bagai bayi. Keluar kamar mandi, aku menuju lemari dan mengambil skinny jeans hitam dan t-shirt putih polos. Hidup di negeri orang memang susah, jauh dari orang tua yang entah rukun atau tidak dan hidup di satu rumah sendirian. Merajut dan merekam kehidupan sehari-hari bersama problematikanya seorang diri. Proses pendewasaan yang tidak terlalu nikmat. Pukul 10.30 berlalu, satu telor ceplok dan segelas susu putih sudah cukup untuk wanita 19 tahun sepertiku. Di umurku 19 tahun ini, aku merasa lebih pantas sebagai seorang kritikus hidup. Tukang orasi dan penggugat ketidakbenaran yang hidup dan berkembang di lingkungan sekitarku. Kuliah di arsitektur tidak membuatku menjadi pengukur ukuran hidup yang pas malah justru lebih membuatku semakin ganas berbicara bak tokoh negara berdasi. Alasannya mudah, karena aku sudah benci hidup yang sekarang. Sudah tidak aku temukan warna indah seonggok bangunan seperti tempo dulu ketika aku masih benar mengartikan cinta lawan jenis. Daun segar yang sekarang menguning layu entah terbang melayang kemana, tiada tujuan pasti dan indah. Lelakiku telah menimbun daun itu dan membawaku tanpa tujuan yang pasti dan sangat membuatku menjadi tak indah lagi. Lelakiku mengurungku di dalam kurungan ayam yang bau. Katanya sebagai wujud tanda cinta, ah tai kucing. Indah sekali ia bersenandung atas nama cinta. Lelakiku sakit jiwa, tak ingin ditinggalkan tapi menyakiti. Tak ingin tanda bagi tapi memberiku tanda seru. Benar aku mencintainya, tapi dimana cintanya aku tak tahu. Di hatiku atau ragaku. Aku benar-benar tak tahu. Membuat kepalaku botak dan semakin hari semakin membuat pembuluh darah di otakku tersumbat. Bingung harus kemana dan bagaimana dan mengadu kepada siapa? Kepada satu telor ceplok dan segelas air susu? Gila.
Ku habiskan sarapan kesepian segera, ku ambil ransel coklat mudaku dan berjalan malas ke luar rumah menuju kampus. Sepeda kesayangan ku ontel menuju kampus yang penuh sesak ilmu dengan santai. Jarak rumah yang cukup dekat dengan kampus membuatku untuk memilih sepeda sebagai kendaraan indah sehari-hari. Sehabis pengumuman ujian masuk universitas, orang tuaku memilihkan rumah kontrakan di daerah yang kurang lebih dekat dengan kampusku. Entah apa tujuan orang tuaku memilih aku untuk mengontrak rumah kecil ketimbang kost. Kata mereka aku calon arsitek, jadi harus mandiri. Apa hubungan dan maksudnya? Belum tahu, aku penurut. Tapi meskipun mereka sudah tak bersama lagi, mereka masih menjadi orang yang paling mengerti aku, mereka faham aku bukanlah orang yang suka dengan keramaian dikala belajar. Jika ada masalah aku pun memilih sendiri dan bergelut dengan alam ketimbang harus meronta-ronta, memeras air mata dengan tisu 5 bungkus bersama para sahabat. Sesampainya di kampus, aku tak banyak bicara. Jika tidak penting, aku lebih memilih diam sebagai pembicaraan. Lebih tepatnya aku pendiam, tak suka banyak bicara. Dosen masuk, berbicara panjang lebar dan memberikan ritual yang tak bisa dihilangkan yaitu tugas perkuliahan yang semakin membuat macet otak. Mati kehabisan nafas karena tugas kuliah adalah penyakit yang paling wajar seorang mahasiswa. Tapi mati karena kehabisan cinta dan menjadi tidak bermoral adalah penyakit tak wajar seorang mahasiswa. Cinta fluktuatif sepasang mahasiswa memang unik dan menegangkan hidup. Mencekam dan bikin geram. Sakit.
Cinta yang tidak bisa ditebak dan berubah-ubah, cinta karena hati atau karena raga yang gemulai. Kembali tanda tanya menguak di permukaan. Sepulang kuliah, aku memutuskan untuk tidur. Udara luar yang panas membuat kulitku terbakar. Membuatku teringat akan neraka. Ingat dosa. Ingat mati. Ingat Tuhan. Teringat cerita orang kotor yang lancang minta surga. Ku buka pintu rumah dan menguncinya kembali. Hari ini aku malas untuk mengangkat telepon atau sekedar membalas sms. Berkali-kali teman, keluarga, bahkan lelakiku menghubungi nomorku tak ada satu pun yang aku angkat atau balas. Hari ini aku tak minat diganggu. Ku matikan handphone dan meletakannya di meja rias kamar. Ku baringkan tubuhku santai dan mulai memejamkan mata berharap bertemu cahaya terang di alam mimpi. Tak lama aku terlelap, jauh meninggalkan alam sadar. Saat yang benar-benar aku tunggu aku bertemu Pelangi disana. Aku bercakap santai dan tanpa sadar aku mulai mengadu tentang kegalauanku kepada Pelangi itu.
“Kau ingin bertemu denganku, Bocah Kecil?” kata Pelangi
“Iya, tapi kenapa kau memanggilku bocah kecil? Aku sudah dewasa. Umurku 19 tahun, aku seorang mahasiswa. Aku bukan bocah kecil lagi! Panggil aku wanita dewasa kalau kau mau.”
“Baiklah wanita dewasa, ada apa kau mencariku?”
“Kenapa kau tak kunjung datang dalam hidupku? Dan kau membiarkan badai temanmu itu terus bertamu di hidupku. Aku bosan melayani tamu seperti dia. Kapan kau mau datang?”
“Kau ingin bertemu denganku hanya ingin menanyakan hal itu?”
“Iya. Aku menunggu Pelangi. Kenapa kau tak ada setelah badai datang? Harusnya kau ada setelah itu. Tapi kau tak ada, kemana?”
“Badai itu belum ingin berlalu, sayang?”
“Kenapa?”
“Ingat dengan Superheromu? Ingat pada deret angka, hitung, dan tanda baca yang baik nan suci itu?”
“Kau mengejekku, kau kira meski aku dalam keadaan kotor aku sudah tak ingat Superheroku itu?”
“Tidak. Aku percaya kau tak pernah melupakanNya”
“Terus apa maksudmu bertanya seperti itu?”
“Superheromu belum mengizinkan aku datang kepadamu. Sabarlah menunggu, aku akan datang setelah badai itu berlalu. Kalau kau percaya pada Superheromu, kau akan tahu betapa Ia sangat mencintai wanita dewasa sepertimu?”
“Aku percaya kepadaNya, dan aku akan tetap berusaha mempercayaiNya walau terkadang aku tak faham akan maksudNya. Kau tahu aku tertekan oleh berbagai masalah, aku yang selalu memilih diam sebagai pembicaraan di dunia. Badai yang mengamuk itu tak kunjung reda, kau tahu dan melihatnya. Tapi kenapa kau diam dan tidak menolongku. Setidaknya hanya sekedar mewarnai hidupku sejenak dengan warnamu itu, keberatankah?” berontakku
Aku menangis dan mengerang kesakitan. Aku ingat keluargaku yang tercerai berai, aku ingat sahabat yang mengaku sahabat yang meninggalkanku hanya karena manisnya uang, aku ingat ayah yang menggendongku waktu kecil, aku ingat ibu yang mencium keningku dan memohon aku untuk menjadi arsitek hebat, aku ingat orang-orang yang paling aku sayang yang lebih dulu meninggalkanku tanpa sempat aku melihatnya untuk terakhir kalinya, aku ingat lelakiku yang memberiku cinta tapi cinta seperti apa aku tak tahu. Pelangi meninggalkanku, pelan warna indahnya memudar. Aku terdiam. Dan tak lama badai datang. Lalu aku bangkit dan segera berlari sekencang-kencangnya. Aku terbangun dan kembali ke alam sadar.
“Mimpi indah yang memuakkan” umpatku
Aku bangkit dari tempat tidur dan duduk di kursi samping jendela kamar, menenangkan diri sembari menyisir rambut ikalku yang berantakan. Langit sore mendung, pertanda akan hujan. Ku tatap langit biru yang sekarang menghitam. Hujan deras mengguyur semua fikiran yang bergesekan di otakku tadi. Di tengah lamunanku, bel berbunyi. Setengah sempoyongan aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Lelakiku datang, sedikit bahagia namun biasa.
“Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?”
Ku usir tangannya dari dahiku.
“Maaf aku muak denganmu.” gerutuku dalam hati.
Dia menatapku tajam seperti biasa matanya bagai singa yang siap menerkam mangsanya.
“Jangan tatap aku seperti itu.” kataku pelan
“Kamu kenapa, Sayang? Kenapa handphonemu mati? Aku jadi tak bisa menghubungimu, Sayang?”
Kata-katanya seperti kata-kata seorang bayi yang tak berdosa, yang masih bersih dan tidak pernah menyakiti. Tangannya mulai nakal memainkan tubuhku dan dengan kasar aku menamparnya. Semua di luar kendaliku, hari ini aku benar-benar muak dengan hidup. Segera aku masuk kamar dan duduk di kursi samping jendela tadi, kembali menenangkan diri.
“Kenapa kau menamparku? Ada apa denganmu? Kau seperti orang sakit jiwa!”
“Kau bisa pulang atau diam di situ. Dan jangan usik aku di sini, dengar?”
“Oke, aku akan diam disini sampai kau tenang.”
Ingin sekali mengambil pisau di dapur dan segera membunuhnya. Lelakiku yang penuh tanda bagi tak sadar telah melukai wanitanya setelah dengan indah memainkan tubuh wanitanya. Sungguh lelaki hina yang paling hina tapi aku cinta, ah muak. Aku tahu dia telah menduakanku. Tapi aku memilih diam, pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu. Tanya kenapa? Karena aku mencintainya dan percaya padanya. Aku tidak peduli dengan proses pembagian dan penyalahgunaan kepercayaan yang dia buat itu, yang terpenting dia tidak meninggalkanku. Itu saja.
“Kalau kau mencintaiku, pergilah.” kataku perlahan
Dia berjalan ke arahku dan memelukku erat. Ku lihat matanya memerah, tak tahu merah menangis atau merah karena begadang dengan wanita-wanitanya. Ini yang membuatku terkadang ragu akan penilaianku, cinta yang seperti apa yang aku minta dan aku salahkan. Ia cinta akan hati atau akan raga, aku benar-benar tak tahu. Aku benar-benar tak bisa merobohkan dinding itu. Ia membagiku tapi ia tak rela jika aku meninggalkannya, apa pun yang ia minta harus aku turuti. Terkadang ia seperti mencintaiku dengan cinta yang aku minta. Tapi kadang ia mencintaiku dengan cinta yang tak aku minta. Dia telah menyulap segumpal darahku dengan sebentuk wajahnya, yang tak bisa untuk rela aku tinggalkan dan biarkan ia sakit meskipun ia telah menyakitiku sakit.