­
­

Cemara Cemar Cerita


Mari kita mulai dari cerita ini.
Gemuruh air pantai dan suara kepakan sekelompok burung yang sedang menikmati suasana pantai.
Tatapan kosong dan sebuah telepon genggam yang dipegangnya erat-erat.

Apa yang dipikirkan seorang wanita ketika ia merasa keadaannya di ujung tanduk menginginkan sebuah jawaban dari pertanyaan yang bisa jadi bodoh atau tak memerlukan jawaban? Tentu saja sama bodohnya dengan pertanyaan itu dan ia pun tak menemukan jawaban karena pertanyaan itu sama sekali tak memerlukan jawaban.
Benar atau salah. Iya atau tidak. Sepertinya jika diibaratkan hanyalah sebuah kepercayaan yang orang imani bisa membawanya ke surga terindah. 
Dia sudah tahu. Dia harus bergerak. Mencari kebenaran bukan hanya dengan berdiam diri bersama gemuruh air pantai dan suara kepakan sekelompok burung.

Dia mulai memainkan telepon genggam yang ia pegang erat-erat. Tangannya bergerak mengikuti pikirannya yang mulai gaduh. Ternyata keinginan yang teramat kuat mampu membuat pikiran orang yang begitu tenang, gaduh bukan kepalang.
Tunggu sebentar, dia membatalkan gerakan tangannya. Perlahan menghilangkan satu per satu huruf yang ia mainkan. Dia mendekatkan telepon genggam itu ke sebelah kanan telinganya. Mulutnya begitu tenang, tak segaduh pikirannya. Dia berbicara sangat tenang.
Dia telah terkurung begitu lama. Entah karena ruangan yang mengurungnya begitu kedap suara, begitu indah, atau begitu menjanjikan segala-galanya, hingga ia benar-benar bodoh tidak memedulikan suara-suara di sekitarnya yang sudah berteriak hingga tenggorokan mereka kering untuk segera meninggalkan tempat itu.

Kereta malam membawanya ke tempat yang yang ia tuju. Udara dingin menyambut. Dia kembali dengan tatapan kosong. Di setiap jalan yang ia tatap melalui jendela kereta berlalu begitu saja seperti waktu yang telah dilupakan begitu cepat oleh laki-laki yang sudah membohonginya.

Mari kita tutup dengan cerita ini.
Kau melihatnya membeku di sebuah ruangan di rumah sakit. Masih setengah tak percaya. Kau mendengarnya bercerita tak lengkap. Tak meneteskan air mata sedikit pun dan berkata, “Dia benar tidur bersama wanita itu. Bukan hanya itu. Dia juga benar tidur bersama tujuh wanita lainnya.”
Lalu dia melepas infus yang terpasang di tangannya. Dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit seperti tak pernah terjadi sesuatu yang amat besar memukul kehidupannya.