Bertemu denganmu membuatku sadar bahwa
kamu adalah satu-satunya keikhlasan yang mampu membuatku mencintai dalam diam.
Berperang dengan perasaan-perasaan yang tidak aku sanggupi, menyumpah-nyumpahi
segala kebodohan-kebodohan yang hampir setiap detik aku lakukan demi
mengkhayalkan kehadiranmu. Mungkinkah memang selalu seperti itu yang namanya
gejolak jatuh cinta? Mungkinkah memang selalu seperti itu yang namanya haru
biru merindukan seseorang yang kita cinta? Iya, aku merindukanmu. Sudah 6 bulan
lebih 9 hari, kamu menghilang dari hadapanku. Sudah ribuan drama menyibukkan
diri yang aku mainkan. Sudah ribuan doa terpanjat untukmu yang entah
merindukanku atau tidak. Tahukah kamu,
pernah suatu hari rasanya aku ingin menyerah?
Bali
Kintamani. Hit and miss in the past.
Itulah kalimat analogika salah satu
warung kopi di Yogyakarta untuk menggambarkan menu kopi Bali Kintamani di
menunya. Kopi yang selalu bisa membuatku jatuh cinta dan menyerah sekaligus. Kopi
yang mendekatkan dan menjauhkan kita. Kopi yang menumbuhkan bentuk-bentuk
perasaan kasih sayang yang tidak pernah bisa kita berdua sanggupi. Masih
teringat jelas pertemuan kita tiga tahun yang lalu di dalam kereta tujuan
Yogyakarta-Jakarta saat itu. Pertemuan yang lambat laun membawaku ke perasaan
sejenis “cinta sendiri”. Saat itu, kamu hampir terlambat menaiki kereta.
Sedangkan aku sudah memasang posisi nyaman di dalam kereta dengan dua sumpalan
headset di kedua telingaku. Saat itu aku adalah seorang fresh
graduate yang sedang limbung mencari-cari pekerjaan yang sungguh
benar-benar memusingkan kepala, menguras tenaga, dan menurunkan berat badan
begitu drastis. Saat itu aku tidak begitu memperhatikanmu bahkan memperhatikan
wajahmu seperti apa pun tidak. Kalau saat itu kamu tidak mengajakku berbincang
terlebih dahulu, mungkin cerita kamu dan aku hanyalah dua orang manusia di muka
bumi yang duduk berdampingan di salah satu gerbong di sebuah kereta tujuan
Yogyakarta-Jakarta. Sayangnya, nampaknya Tuhan berkehendak lain. Sederet
kalimat “Turun dimana, Mbak?” membawa kita ke cerita aku dan kamu yang jauh
lebih dari sekedar dua orang manusia di muka bumi yang duduk berdampingan di
salah satu gerbong di sebuah kereta tujuan Yogyakarta-Jakarta. Stasiun demi
stasiun, kilometer demi kilometer menjauhi kota Yogyakarta, percakapan demi
percakapan mengalir dengan liarnya. Entah kenapa saat itu aku bisa langsung
tertawa sangat lebar dengan orang yang baru beberapa menit aku kenal di dalam
kereta. Entah jenis aroma keromantisan apa yang ada di dalam kereta itu
sehingga mampu membuat kita berdua terus memadu satu per satu jenis obrolan
yang sebenarnya mungkin mengganggu penumpang lain saat itu. Kehangatan
percakapan yang menyeruak begitu saja membawa kita saling bertukar identitas
kehidupan masing-masing. Kamu adalah seseorang yang sedang sama limbungnya
mencari pekerjaan. Kamu adalah mantan seorang illustrator di salah satu
industri kreatif di Yogyakarta yang keluar karena bosan dan sedang melakukan
perjalanan ke kota Jakarta untuk memenuhi panggilan pekerjaan. Sedangkan aku
adalah mantan mahasiswa Sastra Indonesia di salah satu Universitas di
Yogyakarta yang sedang limbung mencari-cari pekerjaan, sedang kangen rumah di Bogor.
Lalu entah bagaimana, setelah turun dari
tujuan masing-masing. Keesokan harinya kita bisa bercakap-cakap via aplikasi whatsapp dan saling berjanji untuk bertemu lagi ketika sudah di
Yogyakarta. Seminggu setelah pertemuan itu, kita berdua sepakat untuk bertemu
di salah satu warung kopi yang konon kabarnya terenak di Yogyakarta. Kopi Bali
Kintamani adalah kopi pilihan kita berdua. Tidak ada kesepakatan apa pun
terkait pemesanan menu yang entah kebetulan atau memang jodohnya, kita berdua
sama-sama memesan kopi itu secara bersamaan. Pertemuan kedua berlangsung sangat
menyenangkan. Dibawah lampu-lampu warung kopi yang samar kuning kecoklatan,
kamu mampu menyihirku dengan sejuta bentuk kekaguman yang tidak pernah aku
rasakan sebelumnya. Lebih tua 3 tahun diatasku ternyata membuatmu begitu mahir
dalam membawa percakapan demi percakapan ke arah yang tidak membosankan. Hingga
di pertengahan malam, percakapan kita beralih menuju ke kisah-kisah percintaan
kita di masa lalu. Untuk tema-tema cinta-cintaan memang ahlinya seorang wanita
untuk bercerita jauh lebih banyak. Memang sudah naluriah seorang wanita
nampaknya ketika sudah menemukan teman curhat yang nyaman, segala-galanya yang
berhubungan dengan permasalahan hati akan ditumpahkan begitu saja tanpa
memperhatikan betapa jemunya lawan bicara kita saat itu.
Dikhianati bertahun-tahun dan mengalami
bentuk kekerasan-kekerasan seorang laki-laki bertabiat pencemburu stadium V, membuatku tumbuh menjadi
perempuan 22 tahun yang lebih kebal dengan serangan patah hati atau hujaman
ribuan tombak pengkhianatan sekalipun saat itu. Setahun membenahi diri,
mengobati hati dan menata kembali kehidupan agar lebih wajar seperti perempuan
22 tahun lainnya, aku berhasil menjadi Mayang 22 tahun versi baru. Aku lulus
kuliah tepat waktu. Meskipun semua belum berjalan sesuai dengan harapan, namun
ada dua hal yang paling aku syukuri saat itu yaitu mulai saat itu dan
seterusnya aku tak akan pernah bersama dengan laki-laki itu lagi dan entah
kebetulan atau takdir, aku bisa bertemu dengan laki-laki sepertimu. Laki-laki
impian.
Kamu baik. Caramu berpikir dan memandang
sesuatu membuatku merasa sedikit ada persamaan. Caramu menyelesaikan suatu
permasalahan tidak pernah membuatku sedikitpun merasa keberatan. Penampilanmu
tidak begitu rapi, mungkin cenderung sedikit berantakan. Santai tepatnya.
Tubuhmu kurus, lebih tinggi 20 cm diatasku. Bentuk wajahmu lonjong, bola matamu
cokelat, bentuk alis yang menghiasi dahimu tidak menggambarkan orang yang
berwatak pemarah. Satu lagi yang paling aku suka, kumis tipismu.
Bali
Kintamani. Hit and miss in the past.
Kopi Bali Kintamaniku masih terisi
setengah. Di luar warung kopi terdengar butir-butir air hujan yang saling
bersusulan membasahi tanah Yogyakarta yang cukup bisa dibilang “panas” hari
ini. Hari ini aku meliburkan diri. Surat kabar tempatku bekerja pun merasa
tidak keberatan jika aku meliburkan diri. Seluruh tanggungan artikel untuk
rubrik koran minggu depan sudah kuselesaikan dengan cepat. Sepanjang sepak
terjangku di dunia pekerjaan, aku adalah satu-satunya karyawan yang mungkin
hanya hitungan jari mengambil jatah-jatah cutinya. Aku ingat sekali, pertama
kalinya aku mengambil jatah cuti pertamaku karena ayah jatuh sakit saat itu.
Jatah cuti kedua, aku gunakan untuk liburan ke Bali bersama kedua orangtuaku.
Jatah cuti ketiga, mulai hari ini dan 6 hari kedepan aku gunakan karenamu.
Aroma kopi Aceh Gayo menyeruak dari bilik
meja yang sedari dulu tidak pernah bergeser sedikitpun posisinya. Bahkan
mesin-mesin penggiling kopi yang bertengger disana, cangkir-cangkir kopi yang
bergelantungan dan toples-toples kedap udara yang berisi beraneka ragam
kopi-kopi nusantara disana, tidak ada yang berubah. Hanya kita yang berubah,
aku rasa.
“Mas Dimas kemana, Mbak?”
“Ga tau, Jo. Udah jarang ketemu.” jawabku
singkat
“Loh, mas Dimas bukannya di Yogya aja ya?
Dia masih kerja di studio punyanya Pak Jarwo, to?”
“Iya masih kok, Jo. Cuma udah ga pernah
ketemu lagi sejak terakhir ngopi bareng disini.”
“Oh gitu to. Eh Mbak Mayang habis acara
apa di kantor kok masih pakai kebaya?”
“Kamu kok kepo banget to. Udah. Kerja sana.. ”
Aksi sapa yang berbalut pertanyaan yang
dilakukan Tejo, salah satu pelayan Warung Kopi yang hampir 3 tahun tidak pernah
kehilangan selera keramahannya membuatku kembali sendu mengingatmu. Sekarang
umurku 25 tahun, kamu 28 tahun. Sudah 3 tahun kita saling mengenal. Milyaran
pesan singkat dan gelombang suara via
udara sudah kita ciptakan pagi, siang, dan malam. Berbagai bentuk pertemuan
sudah kita lakukan. Berbagai cerita pahit, manis, dan hambar sudah sama-sama
kita rasakan. Dan kita pun sama-sama tahu. Hati ini selalu untukmu. Hati itu
selalu untukku.
3 tahun menghabiskan waktu bersamamu tak
pernah membuatku merasa jemu. Tak pernah membuatku berubah menjadi seorang
perempuan yang menuntut memilikimu. Menuntutmu menjadi kekasihku. Entah siapa
yang sebenarnya takut jatuh cinta diantara kita berdua. Mungkin aku sehingga
sebergejolak apa pun perasaanku kepadamu, tak pernah membuatku membuka mulut
memintamu menjelaskan arah hubungan kita sebenarnya. Meskipun terkadang ketika
aku sedang sangat merindukanmu, ingin sekali rasanya aku memeluk dan menciummu.
Meskipun terkadang ketika kamu tidak ada, aku sangat merasa kesepian. Meskipun
terkadang ketika kamu mulai bercerita tentang teman-teman perempuanmu, hatiku
hancur berkeping-keping. Di saat-saat seperti itulah rasanya ingin sekali
memilikimu. Memilikimu menjadi kekasihku. Pernah suatu hari aku merengek karena
sangat merindukanmu. Merengek seakan-akan aku dan kamu adalah sepasang kekasih.
Saat itu aku pikir kamu akan menilaiku berlebihan. Tapi tidak. Kamu justru
memeluk dan mencium bibirku. Saat itu hatiku menjadi sangat tenang, kerinduanku
disambut kerinduanmu juga, perasaanku menjadi semakin meluber. Aku sangat
mencintaimu.
Bali
Kintamani. Hit and miss in the past.
Malam ini. Di hari yang “membahagiakan”
ini, aku merasakan aroma cintamu menyeruak menghadirkan dimensi-dimensi perjalanan
cinta kita berdua. Aku tahu, aku tidak salah untuk menjatuhkan hati kepadamu.
Aku tahu, kamu mencintaiku. Ada ruang istimewa tersendiri dihatimu untukku. Ada
ketulusan kasih sayang yang mengalir apa adanya bersama waktu diantara kita
berdua.
Sekarang, kopi Bali Kintamani di
cangkirku hanya tertinggal ampas-ampasnya saja. Namun meskipun hanya ampas,
justru kenikmatan dan kelembutan cita rasa kopi Bali Kintamani terletak pada
ampasnya. Pada bagian akhirnya.
Hari ini menjadi alasan kenapa tipe
pekerja sepertiku mengambil jatah cutinya secara mendadak. Seminggu yang lalu
saat mata sudah mulai terkantuk-kantuk, lipstik sudah luntur dibawa ribuan deadline surat kabar, ditambah lagi
dengan kemisteriusan orang yang paling dicintai menghilang tanpa kabar. Ada
sebuah bingkisan terselip dibawah pintu kamar kost. Bingkisan itu berwarna
cokelat muda. Di bingkisan itu ada sebuah undangan dan kebaya warna hijau muda.
Semakin malam, warung kopi ini semakin
ramai. Berbagai aroma kopi saling bertukar posisi menghinggapi hidung.
Terkadang cinta jika semakin sulit justru semakin mengajarkan kita banyak hal.
Mencintaimu membuatku sadar bahwa kamu memang satu-satunya keikhlasan yang
mampu membuatku mencintai dalam diam. Mencintaimu membuatku sadar bahwa yang
namanya cinta itu ikhlas. Tidak pernah memaksa, bagaimanapun keadaannya. Jika
memang cinta, pastilah tidak akan ada bentuk pemaksaan model apa pun. Memaksa
dia harus seperti harapan kita. Memaksa dia harus berpenampilan sesuai selera
kita. Memaksa peristiwa demi peristiwa agar sesuai dengan dengan skenario yang
kita buat. Memaksa untuk dia, orang yang telah membuat hati kita berbunga-bunga
untuk menjadi milik kita dan model-model pemaksaan lainnya. Semua itu tidak ada
pada kamus cinta. Cinta itu mengalir. Jangan memaksa. Jangan membuat jalan
cerita sendiri. Itu bukan cinta tapi cuma suka. Cinta hadir tidak terburu-buru.
Cinta hadir perlahan, mengikuti arus, menguji iman dan kesabaran. Cinta juga
menguatkan. Sepelik dan semenyakitkan apa pun perjuangan cinta itu. Dia tidak
akan membuatmu lelah, justru malah semakin membuatmu kuat. Cinta tidak akan
pernah membuat kita terinjak-injak bahkan mati konyol sekalipun. Cinta itu
pemberian yang paling indah dari Tuhan. Jadi tidak mungkin cinta itu merendahkan
kita dan membuat kita menjadi pribadi yang penuh kekerasan. Itu jelas bukan
cinta.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun
demi tahun semenjak mengenal dan menjatuhkan hati kepadamu, aku merasa
mencintaimu seperti ini sudah cukup. 3 tahun bersama, menjadi orang yang selalu
menemani hari-harimu itu sudah cukup. Berbagi cerita dan mimpi bersamamu.
Tertawa dan menangis bersamamu. Menghabiskan pagi, siang, dan malam dengan
berbagai momentum yang tak terlupakan. Semua itu sungguh cinta yang sangat luar
biasa. Kamu tidak akan pernah kehilanganku. Aku
bisa menjadi teman perempuanmu sampai kapan pun, dalam keadaan apa pun,
bahkan dalam keadaan mengetahui kamu tidak akan pernah menjadi milikku
sekalipun.
Hari ini mataku seperti terbakar. Pedih,
panas, namun tidak bisa berair. Kamu semakin tidak bisa kujangkau. Sejak
pertemuan kita 6 bulan yang lalu, saat kamu tak memesan kopi Bali Kintamani
seperti biasa. Saat itu lah kusadari bahwa kamu tak mungkin ku temui lagi.
Entah kenapa, saat itu wajahmu kulihat sangat murung. Desahan suaramu
meninggalkan pertanyaan sekaligus takut kehilangan.
Dengan kebaya hijau muda yang masih aku
kenakan malam ini, siang tadi di Masjid Agung Syuhada Yogyakarta , aku
menyaksikanmu mengucap ikrar cinta kepada perempuan pilihan orangtuamu. Kamu
begitu tampan. Aku duduk di seberangmu tepat dibelakang pak ustadz. Rambut
panjangku, kukepang ke samping. Beberapa detik aku sempat menjauhkan diri ke
lamunan, membayangkan nama yang kamu sebut di janji sehidup semati itu adalah
namaku. Ketika kubuka mata, masih dengan posisi bersalaman dengan pak ustadz,
kamu menatap ke arahku. Ada sedikit warna merah di kedua bola matamu, tarikan
senyummu menyiratkan kepedihan begitu dalam dan aku sudah menjerit-jerit di
bawah alam sadar semenjak mengancingkan kebaya hijau muda ini ke badanku.
Perempuan itu tersenyum sangat bahagia. Dapat terlihat jelas di kedua pipinya
yang memerah. Kebaya yang ia kenakan sama dengan kebayaku, hanya beda versi.
Versi berjilbab. Dia cantik. Serasi denganmu.
Kopi Bali Kintamani di cangkirku sudah habis.
Ampas-ampasnya sudah tidak bisa dirasakan lagi, yang tersisa di meja adalah
segelas air putih. Kopi ini mengantarkanku kepada dimensi-dimensi haru biru,
ketakberdayaan dan impian yang tak sampai.
Kopi ini menghadirkan aroma-aroma kehangatan yang tak bisa membuatku
untuk berhenti merindukanmu. Aroma wangi kopi ini saat baru digiling akan
selalu membuatku teringat akan ketulusan cinta kita berdua. Cinta yang
mengikhlaskan, mendamaikan, mengalir seperti air. Cinta yang hadir perlahan, apa
adanya
- 05.55
- 0 Comments