­
­

Bali Kintamani

05.55

Bertemu denganmu membuatku sadar bahwa kamu adalah satu-satunya keikhlasan yang mampu membuatku mencintai dalam diam. Berperang dengan perasaan-perasaan yang tidak aku sanggupi, menyumpah-nyumpahi segala kebodohan-kebodohan yang hampir setiap detik aku lakukan demi mengkhayalkan kehadiranmu. Mungkinkah memang selalu seperti itu yang namanya gejolak jatuh cinta? Mungkinkah memang selalu seperti itu yang namanya haru biru merindukan seseorang yang kita cinta? Iya, aku merindukanmu. Sudah 6 bulan lebih 9 hari, kamu menghilang dari hadapanku. Sudah ribuan drama menyibukkan diri yang aku mainkan. Sudah ribuan doa terpanjat untukmu yang entah merindukanku atau tidak.  Tahukah kamu, pernah suatu hari rasanya aku ingin menyerah?
Bali Kintamani. Hit and miss in the past.
Itulah kalimat analogika salah satu warung kopi di Yogyakarta untuk menggambarkan menu kopi Bali Kintamani di menunya. Kopi yang selalu bisa membuatku jatuh cinta dan menyerah sekaligus. Kopi yang mendekatkan dan menjauhkan kita. Kopi yang menumbuhkan bentuk-bentuk perasaan kasih sayang yang tidak pernah bisa kita berdua sanggupi. Masih teringat jelas pertemuan kita tiga tahun yang lalu di dalam kereta tujuan Yogyakarta-Jakarta saat itu. Pertemuan yang lambat laun membawaku ke perasaan sejenis “cinta sendiri”. Saat itu, kamu hampir terlambat menaiki kereta. Sedangkan aku sudah memasang posisi nyaman di dalam kereta dengan dua sumpalan headset di kedua telingaku. Saat itu aku adalah seorang  fresh graduate yang sedang limbung mencari-cari pekerjaan yang sungguh benar-benar memusingkan kepala, menguras tenaga, dan menurunkan berat badan begitu drastis. Saat itu aku tidak begitu memperhatikanmu bahkan memperhatikan wajahmu seperti apa pun tidak. Kalau saat itu kamu tidak mengajakku berbincang terlebih dahulu, mungkin cerita kamu dan aku hanyalah dua orang manusia di muka bumi yang duduk berdampingan di salah satu gerbong di sebuah kereta tujuan Yogyakarta-Jakarta. Sayangnya, nampaknya Tuhan berkehendak lain. Sederet kalimat “Turun dimana, Mbak?” membawa kita ke cerita aku dan kamu yang jauh lebih dari sekedar dua orang manusia di muka bumi yang duduk berdampingan di salah satu gerbong di sebuah kereta tujuan Yogyakarta-Jakarta. Stasiun demi stasiun, kilometer demi kilometer menjauhi kota Yogyakarta, percakapan demi percakapan mengalir dengan liarnya. Entah kenapa saat itu aku bisa langsung tertawa sangat lebar dengan orang yang baru beberapa menit aku kenal di dalam kereta. Entah jenis aroma keromantisan apa yang ada di dalam kereta itu sehingga mampu membuat kita berdua terus memadu satu per satu jenis obrolan yang sebenarnya mungkin mengganggu penumpang lain saat itu. Kehangatan percakapan yang menyeruak begitu saja membawa kita saling bertukar identitas kehidupan masing-masing. Kamu adalah seseorang yang sedang sama limbungnya mencari pekerjaan. Kamu adalah mantan seorang illustrator di salah satu industri kreatif di Yogyakarta yang keluar karena bosan dan sedang melakukan perjalanan ke kota Jakarta untuk memenuhi panggilan pekerjaan. Sedangkan aku adalah mantan mahasiswa Sastra Indonesia di salah satu Universitas di Yogyakarta yang sedang limbung mencari-cari pekerjaan, sedang kangen rumah di Bogor.
Lalu entah bagaimana, setelah turun dari tujuan masing-masing. Keesokan harinya kita bisa bercakap-cakap via aplikasi whatsapp dan saling berjanji untuk bertemu lagi ketika sudah di Yogyakarta. Seminggu setelah pertemuan itu, kita berdua sepakat untuk bertemu di salah satu warung kopi yang konon kabarnya terenak di Yogyakarta. Kopi Bali Kintamani adalah kopi pilihan kita berdua. Tidak ada kesepakatan apa pun terkait pemesanan menu yang entah kebetulan atau memang jodohnya, kita berdua sama-sama memesan kopi itu secara bersamaan. Pertemuan kedua berlangsung sangat menyenangkan. Dibawah lampu-lampu warung kopi yang samar kuning kecoklatan, kamu mampu menyihirku dengan sejuta bentuk kekaguman yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Lebih tua 3 tahun diatasku ternyata membuatmu begitu mahir dalam membawa percakapan demi percakapan ke arah yang tidak membosankan. Hingga di pertengahan malam, percakapan kita beralih menuju ke kisah-kisah percintaan kita di masa lalu. Untuk tema-tema cinta-cintaan memang ahlinya seorang wanita untuk bercerita jauh lebih banyak. Memang sudah naluriah seorang wanita nampaknya ketika sudah menemukan teman curhat yang nyaman, segala-galanya yang berhubungan dengan permasalahan hati akan ditumpahkan begitu saja tanpa memperhatikan betapa jemunya lawan bicara kita saat itu.
Dikhianati bertahun-tahun dan mengalami bentuk kekerasan-kekerasan seorang laki-laki bertabiat pencemburu stadium V, membuatku tumbuh menjadi perempuan 22 tahun yang lebih kebal dengan serangan patah hati atau hujaman ribuan tombak pengkhianatan sekalipun saat itu. Setahun membenahi diri, mengobati hati dan menata kembali kehidupan agar lebih wajar seperti perempuan 22 tahun lainnya, aku berhasil menjadi Mayang 22 tahun versi baru. Aku lulus kuliah tepat waktu. Meskipun semua belum berjalan sesuai dengan harapan, namun ada dua hal yang paling aku syukuri saat itu yaitu mulai saat itu dan seterusnya aku tak akan pernah bersama dengan laki-laki itu lagi dan entah kebetulan atau takdir, aku bisa bertemu dengan laki-laki sepertimu. Laki-laki impian.
Kamu baik. Caramu berpikir dan memandang sesuatu membuatku merasa sedikit ada persamaan. Caramu menyelesaikan suatu permasalahan tidak pernah membuatku sedikitpun merasa keberatan. Penampilanmu tidak begitu rapi, mungkin cenderung sedikit berantakan. Santai tepatnya. Tubuhmu kurus, lebih tinggi 20 cm diatasku. Bentuk wajahmu lonjong, bola matamu cokelat, bentuk alis yang menghiasi dahimu tidak menggambarkan orang yang berwatak pemarah. Satu lagi yang paling aku suka, kumis tipismu.
Bali Kintamani. Hit and miss in the past.
Kopi Bali Kintamaniku masih terisi setengah. Di luar warung kopi terdengar butir-butir air hujan yang saling bersusulan membasahi tanah Yogyakarta yang cukup bisa dibilang “panas” hari ini. Hari ini aku meliburkan diri. Surat kabar tempatku bekerja pun merasa tidak keberatan jika aku meliburkan diri. Seluruh tanggungan artikel untuk rubrik koran minggu depan sudah kuselesaikan dengan cepat. Sepanjang sepak terjangku di dunia pekerjaan, aku adalah satu-satunya karyawan yang mungkin hanya hitungan jari mengambil jatah-jatah cutinya. Aku ingat sekali, pertama kalinya aku mengambil jatah cuti pertamaku karena ayah jatuh sakit saat itu. Jatah cuti kedua, aku gunakan untuk liburan ke Bali bersama kedua orangtuaku. Jatah cuti ketiga, mulai hari ini dan 6 hari kedepan aku gunakan karenamu. 
Aroma kopi Aceh Gayo menyeruak dari bilik meja yang sedari dulu tidak pernah bergeser sedikitpun posisinya. Bahkan mesin-mesin penggiling kopi yang bertengger disana, cangkir-cangkir kopi yang bergelantungan dan toples-toples kedap udara yang berisi beraneka ragam kopi-kopi nusantara disana, tidak ada yang berubah. Hanya kita yang berubah, aku rasa.
“Mas Dimas kemana, Mbak?”
“Ga tau, Jo. Udah jarang ketemu.” jawabku singkat
“Loh, mas Dimas bukannya di Yogya aja ya? Dia masih kerja di studio punyanya Pak Jarwo, to?”
“Iya masih kok, Jo. Cuma udah ga pernah ketemu lagi sejak terakhir ngopi bareng disini.”
“Oh gitu to. Eh Mbak Mayang habis acara apa di kantor kok masih pakai kebaya?”
“Kamu kok kepo banget to. Udah. Kerja sana.. ”
Aksi sapa yang berbalut pertanyaan yang dilakukan Tejo, salah satu pelayan Warung Kopi yang hampir 3 tahun tidak pernah kehilangan selera keramahannya membuatku kembali sendu mengingatmu. Sekarang umurku 25 tahun, kamu 28 tahun. Sudah 3 tahun kita saling mengenal. Milyaran pesan singkat dan gelombang suara via udara sudah kita ciptakan pagi, siang, dan malam. Berbagai bentuk pertemuan sudah kita lakukan. Berbagai cerita pahit, manis, dan hambar sudah sama-sama kita rasakan. Dan kita pun sama-sama tahu. Hati ini selalu untukmu. Hati itu selalu untukku.
3 tahun menghabiskan waktu bersamamu tak pernah membuatku merasa jemu. Tak pernah membuatku berubah menjadi seorang perempuan yang menuntut memilikimu. Menuntutmu menjadi kekasihku. Entah siapa yang sebenarnya takut jatuh cinta diantara kita berdua. Mungkin aku sehingga sebergejolak apa pun perasaanku kepadamu, tak pernah membuatku membuka mulut memintamu menjelaskan arah hubungan kita sebenarnya. Meskipun terkadang ketika aku sedang sangat merindukanmu, ingin sekali rasanya aku memeluk dan menciummu. Meskipun terkadang ketika kamu tidak ada, aku sangat merasa kesepian. Meskipun terkadang ketika kamu mulai bercerita tentang teman-teman perempuanmu, hatiku hancur berkeping-keping. Di saat-saat seperti itulah rasanya ingin sekali memilikimu. Memilikimu menjadi kekasihku. Pernah suatu hari aku merengek karena sangat merindukanmu. Merengek seakan-akan aku dan kamu adalah sepasang kekasih. Saat itu aku pikir kamu akan menilaiku berlebihan. Tapi tidak. Kamu justru memeluk dan mencium bibirku. Saat itu hatiku menjadi sangat tenang, kerinduanku disambut kerinduanmu juga, perasaanku menjadi semakin meluber. Aku sangat mencintaimu.
Bali Kintamani. Hit and miss in the past.
Malam ini. Di hari yang “membahagiakan” ini, aku merasakan aroma cintamu menyeruak menghadirkan dimensi-dimensi perjalanan cinta kita berdua. Aku tahu, aku tidak salah untuk menjatuhkan hati kepadamu. Aku tahu, kamu mencintaiku. Ada ruang istimewa tersendiri dihatimu untukku. Ada ketulusan kasih sayang yang mengalir apa adanya bersama waktu diantara kita berdua.
Sekarang, kopi Bali Kintamani di cangkirku hanya tertinggal ampas-ampasnya saja. Namun meskipun hanya ampas, justru kenikmatan dan kelembutan cita rasa kopi Bali Kintamani terletak pada ampasnya. Pada bagian akhirnya.
Hari ini menjadi alasan kenapa tipe pekerja sepertiku mengambil jatah cutinya secara mendadak. Seminggu yang lalu saat mata sudah mulai terkantuk-kantuk, lipstik sudah luntur dibawa ribuan deadline surat kabar, ditambah lagi dengan kemisteriusan orang yang paling dicintai menghilang tanpa kabar. Ada sebuah bingkisan terselip dibawah pintu kamar kost. Bingkisan itu berwarna cokelat muda. Di bingkisan itu ada sebuah undangan dan kebaya warna hijau muda.
Semakin malam, warung kopi ini semakin ramai. Berbagai aroma kopi saling bertukar posisi menghinggapi hidung. Terkadang cinta jika semakin sulit justru semakin mengajarkan kita banyak hal. Mencintaimu membuatku sadar bahwa kamu memang satu-satunya keikhlasan yang mampu membuatku mencintai dalam diam. Mencintaimu membuatku sadar bahwa yang namanya cinta itu ikhlas. Tidak pernah memaksa, bagaimanapun keadaannya. Jika memang cinta, pastilah tidak akan ada bentuk pemaksaan model apa pun. Memaksa dia harus seperti harapan kita. Memaksa dia harus berpenampilan sesuai selera kita. Memaksa peristiwa demi peristiwa agar sesuai dengan dengan skenario yang kita buat. Memaksa untuk dia, orang yang telah membuat hati kita berbunga-bunga untuk menjadi milik kita dan model-model pemaksaan lainnya. Semua itu tidak ada pada kamus cinta. Cinta itu mengalir. Jangan memaksa. Jangan membuat jalan cerita sendiri. Itu bukan cinta tapi cuma suka. Cinta hadir tidak terburu-buru. Cinta hadir perlahan, mengikuti arus, menguji iman dan kesabaran. Cinta juga menguatkan. Sepelik dan semenyakitkan apa pun perjuangan cinta itu. Dia tidak akan membuatmu lelah, justru malah semakin membuatmu kuat. Cinta tidak akan pernah membuat kita terinjak-injak bahkan mati konyol sekalipun. Cinta itu pemberian yang paling indah dari Tuhan. Jadi tidak mungkin cinta itu merendahkan kita dan membuat kita menjadi pribadi yang penuh kekerasan. Itu jelas bukan cinta.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun semenjak mengenal dan menjatuhkan hati kepadamu, aku merasa mencintaimu seperti ini sudah cukup. 3 tahun bersama, menjadi orang yang selalu menemani hari-harimu itu sudah cukup. Berbagi cerita dan mimpi bersamamu. Tertawa dan menangis bersamamu. Menghabiskan pagi, siang, dan malam dengan berbagai momentum yang tak terlupakan. Semua itu sungguh cinta yang sangat luar biasa. Kamu tidak akan pernah kehilanganku. Aku  bisa menjadi teman perempuanmu sampai kapan pun, dalam keadaan apa pun, bahkan dalam keadaan mengetahui kamu tidak akan pernah menjadi milikku sekalipun.
Hari ini mataku seperti terbakar. Pedih, panas, namun tidak bisa berair. Kamu semakin tidak bisa kujangkau. Sejak pertemuan kita 6 bulan yang lalu, saat kamu tak memesan kopi Bali Kintamani seperti biasa. Saat itu lah kusadari bahwa kamu tak mungkin ku temui lagi. Entah kenapa, saat itu wajahmu kulihat sangat murung. Desahan suaramu meninggalkan pertanyaan sekaligus takut kehilangan.
Dengan kebaya hijau muda yang masih aku kenakan malam ini, siang tadi di Masjid Agung Syuhada Yogyakarta , aku menyaksikanmu mengucap ikrar cinta kepada perempuan pilihan orangtuamu. Kamu begitu tampan. Aku duduk di seberangmu tepat dibelakang pak ustadz. Rambut panjangku, kukepang ke samping. Beberapa detik aku sempat menjauhkan diri ke lamunan, membayangkan nama yang kamu sebut di janji sehidup semati itu adalah namaku. Ketika kubuka mata, masih dengan posisi bersalaman dengan pak ustadz, kamu menatap ke arahku. Ada sedikit warna merah di kedua bola matamu, tarikan senyummu menyiratkan kepedihan begitu dalam dan aku sudah menjerit-jerit di bawah alam sadar semenjak mengancingkan kebaya hijau muda ini ke badanku. Perempuan itu tersenyum sangat bahagia. Dapat terlihat jelas di kedua pipinya yang memerah. Kebaya yang ia kenakan sama dengan kebayaku, hanya beda versi. Versi berjilbab. Dia cantik. Serasi denganmu.

Kopi Bali Kintamani di cangkirku sudah habis. Ampas-ampasnya sudah tidak bisa dirasakan lagi, yang tersisa di meja adalah segelas air putih. Kopi ini mengantarkanku kepada dimensi-dimensi haru biru, ketakberdayaan dan impian yang tak sampai.  Kopi ini menghadirkan aroma-aroma kehangatan yang tak bisa membuatku untuk berhenti merindukanmu. Aroma wangi kopi ini saat baru digiling akan selalu membuatku teringat akan ketulusan cinta kita berdua. Cinta yang mengikhlaskan, mendamaikan, mengalir seperti air. Cinta yang hadir perlahan, apa adanya

You Might Also Like

0 komentar