- 20.35
- 1 Comments
- 05.55
- 0 Comments
- 01.14
- 0 Comments

Hidup terus berjalan dan berperang di tengah kebahagiaan dan kekecewaan. Manusia adalah perwujudan dari roh atas sebuah kebebasan dan tanggung jawab dari berbagai pilihan hidup. Manusia tidak akan pernah lepas dari roda perjalanan hidup. Manusia akan terus membangun identitas dan eksistensinya sehari-hari. Di suatu saat, mungkin manusia akan merasa terpukul oleh berbagai perubahan hidup. Dan di saat lain pula, manusia akan merasa terbuai di puncak gelombang pasang naik kehidupan. Kata orang bahwa inilah yang menjadikan hidup itu misteri dan ini pula yang menjadikan setiap saat suatu kekecewaan masa lampau. Kedamaian atau harmoni masa kini atau kebalikannya, serta ancaman dan janji saat-saat yang akan datang. Manusia adalah nilai. Manusia adalah suatu integritas. Manusia adalah suatu keunikan dan tidak ada satu orang pun yang memiliki bendera hak untuk memenjarakan hati dan kebebasan akan jalan hidupnya. Manusia adalah hakikat atas keputusan. Orang lain hanya berhak untuk membantu dan bukan menentukan bahkan mengancam.
Aku adalah perwujudan dari roh atas sebuah kebebasan dan tanggung jawab dari berbagai pilihan hidup. Aku akan terus membangun identitas dan eksistensiku sehari-hari. Di suatu saat, aku pasti akan terpukul oleh berbagai perubahan hidup. Dan di saat lain pula, aku akan merasa terbuai di puncak gelombang pasang naik kehidupan. Aku adalah nilai. Aku adalah suatu integritas. Aku adalah suatu keunikan dan tidak ada satu orang pun yang memiliki bendera hak untuk memenjarakan hati dan kebebasan akan jalan hidupku. Aku adalah hakikat atas keputusan.
Gelombang pasang surut kehidupan akan melanda setiap manusia di muka bumi. Hanya saja besar kecilnya gelombang dan kuat rapuh karang yang melindunginya berbeda. Karena itulah manusia tidak akan pernah bisa dikatakan sempurna. Akan ada kekuatan dan kelemahan yang melekat pada dirinya. Akan ada kebaikan dan kejahatan di dirinya. Dan akan ada selalu kebenaran dan kesalahan yang terpaut kuat di dalam dirinya.
Awal aku tidak merasa jika aku berbeda. Hingga suatu malam seseorang bercerita kepadaku tentang banyak hal di hidupnya. Aku merasa sangat kagum dan memiliki energi lebih seketika. Kami bercerita banyak hal, bercerita tentang hidup di berbagai sisi. Semakin malam kami merasa semakin hangat, hingga akhirnya di saat malam sudah enggan bermalam dan hari sudah mulai ingin berganti pagi, di penghujung pembicaraan dan pertemuan kami, dia menyampaikan sekelumit pesan. Dia menyadarkan aku akan keberbedaanku dengan yang lain. Dengan lugas, dia berkata kepadaku bahwa aku adalah orang yang memiliki dan asyik dengan duniaku sendiri. Aku adalah orang yang memiliki cara dan jalan berpikir yang sangat berbeda dengan orang lain. Lalu entah apa yang sudah terjadi, dia menitikan air mata dan menatapku iba. Ia seperti seseorang yang sudah mengenalku lama dan tahu akan jatuh bangunnya aku. Ia seperi malaikat yang datang kepadaku yang tiba-tiba datang mengajakku bertemu dan menerawang pisau-pisau yang tertancap dalam di tubuhku. Dan sejak malam itulah, ia telah memberiku energi lebih hingga sekarang. Ucapan terima kasih dan doa terbaik untuknya, hanya itulah yang bisa aku berikan. J
- 07.04
- 0 Comments

- 06.09
- 0 Comments
- 00.36
- 2 Comments
Hari ini adalah hari yang paling menakutkan. Menangis pun hanya sampai di tenggorokan. Kaki seperti hanya berfungsi satu. Kedua tangan pun hanya bisa menengadah minta ampun. Jika biasanya rasa sakit hanya sampai permukaan kulit. Ini lain, tembus ke dalam kulit melewati tulang dan serba-serbi syaraf lainnya. Mungkin hari ini mukaku tampak seperti timbunan karung beras di gudang, berton-ton beratnya sampai untuk tersenyum pun rasanya malas sekali. Sekilas aku ingat bapak ibu, coba mereka ada disampingku. Menemaniku, merangkulku, bahkan menciumiku walaupun ibarat sekujur tubuhku sudah dibaluti amis darah. Tapi ya sudahlah, apa sih yang musti disesali. Hidup memang kadang begini, sebentar-sebentar manis, sebentar-sebentar pahit. Yakin sajalah, akan ada kejutan indah setelah ini.
Mungkin karena kemarin siang aku membual muak dengan persoalan cinta. Jadinya hari ini akhirnya pun aku di sodori bualan yang jauh lebih memuakan dari persoalan cinta. Betapa tidak? Sakitnya melebihi kisah Romeo dan Juliet. Bahkan kalau jatuh cinta melayangnya hanya sampai langit ke tujuh. Ini jauh lebih jauh dari langit ke tujuh. Melayang-layang diantara pintu kehidupan dan kematian sungguh sangat tidak lucu, sama sekali tidak menyenangkan. Meski ibarat kau optimis manis dengan pintu kehidupan, tapi sungguh tidak ada manusia di dunia ini yang suka perasaannya di gantung, jujur saja.. kau diperintah untuk melayang-layang diantara pintu kehidupan dan pintu kematian kan sama saja dengan kala perasaanmu digantung oleh kekasihmu. Pikirkan saja, apakah sama sakitnya? Anak kecil pun tahu, tentu tidak.
Kau tau, hari ini otakku dibayangi oleh jarum suntik dan kata-kata mengejutkan yang membuatku merasa ditusuk-tusuk otak kanan-kirinya? Diperiksa, melihat reaksi dokter, melaksanakan perintah dokter dan menunggu hasil pemeriksaan membuatku mabuk. Terpuruk dan kalang kabut. Berkata kuat atau tidak, tentu tidak. Tapi sekali lagi, menangis pun hanya sampai di tenggorokan. Kembali aku bernostalgia tentang masa sehat yang terasa amat hebat yang pernah ada di catatan hidupku kemarin. Kemarin. Entah kemarin yang mana yang aku maksud. Yang jelas kemarin. Kemarin sebelum aku merasakan sakit. Iya.. mungkin kemarin itu yang aku maksud. Sejak aku mulai merasakan salah satu kabel di jaringan tubuhku putus, jujur.. aku merasa sudah seperempat hilang dari dunia gila ini. Walaupun sempat suka dengan perasaan ini, tapi seperti biasa. Boleh kan orang menghilang lalu merindu? Tidak ada yang melarang kan? Hujan saja bebas mengalir kapan pun dan menghilang kapan pun. Tidak ada bedanya kan dengan aku? Aku juga berhak untuk bertindak seperti itu. Bahkan pikirku, justru aku lebih berhak malah. Maaf aku menggerutu tidak jelas dan tidak berarah, aku hanya ingin manja dengan suasana kok. Sekali lagi, boleh kan?
Lihatlah, hujan sedang mengguyur kota hari ini dan hanya mengguyur kota. Ia tidak mengguyur perasaan getir yang membalut sekujur tubuhku. Di kursi sudut ruang operasi, aku menikmati hujan yang bermain di sepanjang sisi kaca jendela. Badanku sakit. Terasa bengkak di salah satu bagian. Sekali lagi hanya sampai tenggorokan, aku tidak bisa mengekspresikan air mata melewati mata. Hanya sampai tenggorokan. Walaupun hanya sampai di tenggorokan, aku harap kau datang dan tidak membiarkanku kesakitan terus-terusan memaksa air mata untuk jangan lewat melewati tenggorokan, aku harap kau bisa membujuknya untuk melewati jalan yang benar. Katakan padanya, mata adalah tempat baginya. Tempat dimana ia akan merasa aman ketika membeku dan mencair. Kekasihku, aku hanya ingin manja dengan suasana kok. Boleh kan?
- 07.07
- 0 Comments
