- 20.32
- 0 Comments
- 20.35
- 1 Comments
- 05.55
- 0 Comments
- 01.14
- 0 Comments

Hidup terus berjalan dan berperang di tengah kebahagiaan dan kekecewaan. Manusia adalah perwujudan dari roh atas sebuah kebebasan dan tanggung jawab dari berbagai pilihan hidup. Manusia tidak akan pernah lepas dari roda perjalanan hidup. Manusia akan terus membangun identitas dan eksistensinya sehari-hari. Di suatu saat, mungkin manusia akan merasa terpukul oleh berbagai perubahan hidup. Dan di saat lain pula, manusia akan merasa terbuai di puncak gelombang pasang naik kehidupan. Kata orang bahwa inilah yang menjadikan hidup itu misteri dan ini pula yang menjadikan setiap saat suatu kekecewaan masa lampau. Kedamaian atau harmoni masa kini atau kebalikannya, serta ancaman dan janji saat-saat yang akan datang. Manusia adalah nilai. Manusia adalah suatu integritas. Manusia adalah suatu keunikan dan tidak ada satu orang pun yang memiliki bendera hak untuk memenjarakan hati dan kebebasan akan jalan hidupnya. Manusia adalah hakikat atas keputusan. Orang lain hanya berhak untuk membantu dan bukan menentukan bahkan mengancam.
Aku adalah perwujudan dari roh atas sebuah kebebasan dan tanggung jawab dari berbagai pilihan hidup. Aku akan terus membangun identitas dan eksistensiku sehari-hari. Di suatu saat, aku pasti akan terpukul oleh berbagai perubahan hidup. Dan di saat lain pula, aku akan merasa terbuai di puncak gelombang pasang naik kehidupan. Aku adalah nilai. Aku adalah suatu integritas. Aku adalah suatu keunikan dan tidak ada satu orang pun yang memiliki bendera hak untuk memenjarakan hati dan kebebasan akan jalan hidupku. Aku adalah hakikat atas keputusan.
Gelombang pasang surut kehidupan akan melanda setiap manusia di muka bumi. Hanya saja besar kecilnya gelombang dan kuat rapuh karang yang melindunginya berbeda. Karena itulah manusia tidak akan pernah bisa dikatakan sempurna. Akan ada kekuatan dan kelemahan yang melekat pada dirinya. Akan ada kebaikan dan kejahatan di dirinya. Dan akan ada selalu kebenaran dan kesalahan yang terpaut kuat di dalam dirinya.
Awal aku tidak merasa jika aku berbeda. Hingga suatu malam seseorang bercerita kepadaku tentang banyak hal di hidupnya. Aku merasa sangat kagum dan memiliki energi lebih seketika. Kami bercerita banyak hal, bercerita tentang hidup di berbagai sisi. Semakin malam kami merasa semakin hangat, hingga akhirnya di saat malam sudah enggan bermalam dan hari sudah mulai ingin berganti pagi, di penghujung pembicaraan dan pertemuan kami, dia menyampaikan sekelumit pesan. Dia menyadarkan aku akan keberbedaanku dengan yang lain. Dengan lugas, dia berkata kepadaku bahwa aku adalah orang yang memiliki dan asyik dengan duniaku sendiri. Aku adalah orang yang memiliki cara dan jalan berpikir yang sangat berbeda dengan orang lain. Lalu entah apa yang sudah terjadi, dia menitikan air mata dan menatapku iba. Ia seperti seseorang yang sudah mengenalku lama dan tahu akan jatuh bangunnya aku. Ia seperi malaikat yang datang kepadaku yang tiba-tiba datang mengajakku bertemu dan menerawang pisau-pisau yang tertancap dalam di tubuhku. Dan sejak malam itulah, ia telah memberiku energi lebih hingga sekarang. Ucapan terima kasih dan doa terbaik untuknya, hanya itulah yang bisa aku berikan. J
- 07.04
- 0 Comments

- 06.09
- 0 Comments
- 00.36
- 2 Comments
Hari ini adalah hari yang paling menakutkan. Menangis pun hanya sampai di tenggorokan. Kaki seperti hanya berfungsi satu. Kedua tangan pun hanya bisa menengadah minta ampun. Jika biasanya rasa sakit hanya sampai permukaan kulit. Ini lain, tembus ke dalam kulit melewati tulang dan serba-serbi syaraf lainnya. Mungkin hari ini mukaku tampak seperti timbunan karung beras di gudang, berton-ton beratnya sampai untuk tersenyum pun rasanya malas sekali. Sekilas aku ingat bapak ibu, coba mereka ada disampingku. Menemaniku, merangkulku, bahkan menciumiku walaupun ibarat sekujur tubuhku sudah dibaluti amis darah. Tapi ya sudahlah, apa sih yang musti disesali. Hidup memang kadang begini, sebentar-sebentar manis, sebentar-sebentar pahit. Yakin sajalah, akan ada kejutan indah setelah ini.
Mungkin karena kemarin siang aku membual muak dengan persoalan cinta. Jadinya hari ini akhirnya pun aku di sodori bualan yang jauh lebih memuakan dari persoalan cinta. Betapa tidak? Sakitnya melebihi kisah Romeo dan Juliet. Bahkan kalau jatuh cinta melayangnya hanya sampai langit ke tujuh. Ini jauh lebih jauh dari langit ke tujuh. Melayang-layang diantara pintu kehidupan dan kematian sungguh sangat tidak lucu, sama sekali tidak menyenangkan. Meski ibarat kau optimis manis dengan pintu kehidupan, tapi sungguh tidak ada manusia di dunia ini yang suka perasaannya di gantung, jujur saja.. kau diperintah untuk melayang-layang diantara pintu kehidupan dan pintu kematian kan sama saja dengan kala perasaanmu digantung oleh kekasihmu. Pikirkan saja, apakah sama sakitnya? Anak kecil pun tahu, tentu tidak.
Kau tau, hari ini otakku dibayangi oleh jarum suntik dan kata-kata mengejutkan yang membuatku merasa ditusuk-tusuk otak kanan-kirinya? Diperiksa, melihat reaksi dokter, melaksanakan perintah dokter dan menunggu hasil pemeriksaan membuatku mabuk. Terpuruk dan kalang kabut. Berkata kuat atau tidak, tentu tidak. Tapi sekali lagi, menangis pun hanya sampai di tenggorokan. Kembali aku bernostalgia tentang masa sehat yang terasa amat hebat yang pernah ada di catatan hidupku kemarin. Kemarin. Entah kemarin yang mana yang aku maksud. Yang jelas kemarin. Kemarin sebelum aku merasakan sakit. Iya.. mungkin kemarin itu yang aku maksud. Sejak aku mulai merasakan salah satu kabel di jaringan tubuhku putus, jujur.. aku merasa sudah seperempat hilang dari dunia gila ini. Walaupun sempat suka dengan perasaan ini, tapi seperti biasa. Boleh kan orang menghilang lalu merindu? Tidak ada yang melarang kan? Hujan saja bebas mengalir kapan pun dan menghilang kapan pun. Tidak ada bedanya kan dengan aku? Aku juga berhak untuk bertindak seperti itu. Bahkan pikirku, justru aku lebih berhak malah. Maaf aku menggerutu tidak jelas dan tidak berarah, aku hanya ingin manja dengan suasana kok. Sekali lagi, boleh kan?
Lihatlah, hujan sedang mengguyur kota hari ini dan hanya mengguyur kota. Ia tidak mengguyur perasaan getir yang membalut sekujur tubuhku. Di kursi sudut ruang operasi, aku menikmati hujan yang bermain di sepanjang sisi kaca jendela. Badanku sakit. Terasa bengkak di salah satu bagian. Sekali lagi hanya sampai tenggorokan, aku tidak bisa mengekspresikan air mata melewati mata. Hanya sampai tenggorokan. Walaupun hanya sampai di tenggorokan, aku harap kau datang dan tidak membiarkanku kesakitan terus-terusan memaksa air mata untuk jangan lewat melewati tenggorokan, aku harap kau bisa membujuknya untuk melewati jalan yang benar. Katakan padanya, mata adalah tempat baginya. Tempat dimana ia akan merasa aman ketika membeku dan mencair. Kekasihku, aku hanya ingin manja dengan suasana kok. Boleh kan?
- 07.07
- 0 Comments
Bagiku kau terlalu menusuk mata ketika kemarau,
Kau berbeda sekali dengan biasanya akhir-akhir ini,
Apa kau sudah kekurangan air?
Apa kau merasa kalau aku sudah tak bisa menghidupimu lagi?
Seluruh tubuhmu sudah merasakan kering yang sangat sinting kah?
Sahabat, aku mencoba untuk menghidupimu setiap hari.
Aku selalu berusaha untuk tetap menjadi teman bersiulmu kala angin sore merontokkan daunmu satu per satu.
Coba ingat, kala semi datang.
Kau begitu hijau.
Centil sekali kau terlihat berlenggak lenggok menikmati angin.
Dan aku suka. kau dengar sahabat, aku suka.
Kau hampir setiap hari mengajakku bersiul.
Sampai kau pun menertawaiku geli karena melihat bibirku menebal gara-gara menemanimu bersiul setiap hari.
Ingat, sahabat?
Ah! aku benci ternyata kau tak ingat!
Aku geram sekali denganmu.
Ingin sekali tega denganmu dan membiarkanmu mati kekeringan.
Aku benci kepadamu kalau kau terus-terusan tidak ingat begini.
Tapi sudahlah, aku tahu kau memang seperti itu.
Suka sekali meledekku, iya kan?
Sampai pada akhirnya,
Aku kelelahan membuatmu ingat.
Aku mencari pelabuhan bersandar sejenak, ya.. melepas penat pikirku.
Sahabat bagiku bukanlah dedaunan hijau yang terlihat segar ketika di sentuh air.
Karena ketika kemarau ku datangkan, mereka berubah menguning bahkan cokelat hingga akhirnya berguguran.
Aku bisa saja menjadi semi dan kemarau kapan pun aku mau,
Hanya saja yang aku tanyakan "apakah kamu mau tetap menghijau ketika semi atau kemarau?"..
Datanglah kemari ketika semi dan menjauhlah sejauh-jauhnya ketika kemarau, itu akan membuatmu am
Hingga kalimat itu terlontar,
Ternyata kau masih tidak mau ingat juga.
Ah! aku geram sekali denganmu!!
- 19.19
- 0 Comments
- 08.31
- 0 Comments
SOSOK LELAKIKU MUSIM LALU
DIA MELETAKAN KUASNYA SEJENAK, LALU MENATAPKU
DIA DIAM, LALU MENGGORESKAN KEMBALI KUASNYA
AKU MELIHAT SEMBURAT KECEWA DI MATANYA
AKU MENDEKAT, DIA TERSENYUM
AKU MERASA SENYUMNYA TERLALU INDAH
TERLALU JAUH UNTUK AKU BALAS
BOLA MATAKU MENGIKUTI, IKUT MENARI DENGAN TANGANNYA YANG GAGAH
DIA MELETAKAN KUASNYA,
BERDIRI DAN MENGAJAKKU UNTUK MELIHAT PEMANDANGAN DI LUAR JENDELA
IA BERKATA,
“ JIKA SUATU SAAT AKU PERGI, ITU LAH SAATNYA KAU HARUS MELIHAT KE LUAR JENDELA. KAU TAK BISA SETIAP HARI MELIHATKU MELUKIS DAN MENGIKUTIKU MENARI DENGAN KUASKU. AKU PUNYA WAKTU TERBATAS DAN TEMPAT YANG JAUH UNTUK BISA SAMPAI KE RUMAHMU DENGAN CEPAT. AKU JUGA PUNYA KEBIASAAN YANG TERLALU BERBEDA DENGANMU. KITA BERBEDA DAN AKU TIDAK BAIK “
Orang Kartun, 27 Agustus 2011
- 05.13
- 0 Comments
- 06.29
- 0 Comments

- 20.33
- 0 Comments
Pikirkan satu pohon kering yang sangat kering di musim kemarau. Ia begitu kering. Warna coklat yang membalutnya sudah tak terlihat manis. Daun hijaunya hilang, terbang atau jatuh entah kemana. Di padang yang dulu hijau, ia sendiri.. tak ada teman. Satu per satu batangnya pun patah diterpa angin yang marah, terlalu girang bahkan terlalu sedih mungkin. Detik yang ia lewati awalnya biasa saja. Lalu menit yang ia lewati juga masih sedikit biasa dan kemudian jam ia lewati, luar biasa. Akhirnya hari, minggu, bulan, tahun, ia nikmati dengan sungguh tidak biasa. Ia inginkan setetes penyegar, walau setetes. Ia benar-benar hanya menginginkan itu. Sakit dan ngilu ia rasakan, diantara pilihan untuk tetap hidup atau mati saja. Setelah dipikir –pikir, memilih mati terasa cengeng dan menyedihkan sekali. Terasa kecut dan pengecut. Andai bisa memilih hidup. Tapi bagaimana bisa. Nafasnya saja tidak genap satu. Darahnya saja tak kental. Apalagi liurnya, keluar pun tidak.
Percaya ga percaya, setiap orang di muka bumi ini pasti pernah ngrasain yang namanya masalah. Cuma tergantung kitanya yang ngadepin masalah itu kayak gimana. Ada orang yang diem, tegas, keras, berlebihan, masa bodoh, dan bla bla. Semuanya tergantung sama kepribadian masing-masing orang.
Guys, gua ngibaratin Pohon = Kita. Musim kemarau = Masalah. Daun hijaunya yang hilang, terbang atau jatuh entah kemana = Diri kita yang terombang ambing, tertekan, stress karena masalah. Penyegar = Solusi masalah.
Oke, secara gamblangnya aja. Ketika kita lagi dapet masalah nih, pasti kita akan ngrasa sendiri, ga ada orang yang bisa dan mau ngertiin kita. Kita merasa tertekan ditekan, kita hilang arah, ga tahu harus nyelesein masalahnya dari mana. Sampai pada akhirnya ada orang yang diem seakan acuh tak acuh dan beranggapan masalah akan selesai dan akan indah pada waktunya ( padahal ga tahu mau indahnya kapan ), ada orang yang keras yang langsung plak plak plak dan berfikiran kalo masalah akan cepet selesai kalo lewat kekerasan tanpa berfikir kerugian-kerugian yang sebenarnya banyak didapat dari sikapnya itu yang justru akan memperkeruh masalah. Selain dari kedua tipe itu, ada orang yang berlebihan dalam memandang suatu permasalahan. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngadu cerita ke sana-sini. Aww.. biasanya cewek nih yang kayak gini hehe. Tanpa disadari, semua itu justru akan memperparah keadaan. Kita ga perlu lah sok sokan berlagak cuek, sok jagoan main kekerasan, dan lebay dalam memandang masalah. Ketika masalah menerpa, yakin aja kalo semaunya akan baik-baik aja. Masalah yang sedang lu hadepin itu adalah sesuatu yang akan memperkuat diri lu nantinya, dan yang paling musti diinget, kita itu harus nyari ” penyegar ” alias SOLUSI biar kita ga jadi ” pohon kering ” alias KORBAN MASALAH. Bukan dengan cara lu ng-drink, ngrokok ( bagi yang cewek ), ng-drugs, jual diri bahkan bunuh diri. Ahh.. ga banget lu kalo kayak gitu, mending kaga usah lahir aja deh. Baru dikasih masalah secuil aja udah nyerah, haha jangan gitu dong! :D. Inget kata enyak, babeh, dan ustadz-ustadz yang pernah lu liat, kalo Tuhan itu ga lebay kaya lu ( hehe.. ) Dia ga akan kasih lu cobaan yang lebay lah, percaya aja.
Pesen gua sih, kalo lu lagi dapet masalah. Lu mending koreksi diri sendiri dulu deh. Dilihat tuh, apa yang salah sama diri lu kok bisa muncul permasalahan kayak gitu. Kalo emang lu ga ngrasa ada yang salah, baru lu tengok keluar mungkin mereka yang salah. Setelah itu, selesein masalahnya step by step. Jangan mentang-mentang pengen cepet selesai, masalah lu selesein rombongan. Unsur-unsur dari setiap masalah kan beda-beda hehe.. jangan terlalu menuntut orang lain harus seperti yang ada dipikiran lu. Karena belum tentu orang pasti mau seperti apa yang ada dipikiran lu, kalo ga percaya berkaca aja sama diri lu. Mau ga diatur sesuai keinginan orang lain, diminta ini itu, diharusin kayak gini kayak gitu. No. No. No.. yang terpenting, jangan lupain lu punya siapa. Tuhan tuh ada, dan serahin semuanya ke Dia. Dia bakal kasih lu yang terbaik. Dia ga memandang lu itu ganteng/ cantik apa ga, yang Dia lihat tuh lu tulus ga sama Dia. hehe
Jadiin masalah yang bikin lu ngumpat itu, batu pijakan lu jadi dewasa dan orang yang lebih kuat dari kemarin. Lu itu tercipta dari kekuatan hebat. So otomatis lu pasti hebat juga. Lu unik, dan ga ada yang bisa seperti lu. Ga ada yang bisa ngrasain apa yang terjadi sama diri lu kecuali diri lu sendiri. Orang lain cuma bisa denger, lihat, dan tau aja.. tapi buat ngrasain itu mustahil. Oke… :)
- 06.45
- 0 Comments
jika ketertarikan tidak memudar.
Sehingga,
orang yang tidak memelihara
daya tarik pribadinya,
akan kehilangan cinta
secepat hilangnya daya tarik.
Jatuh cinta itu mudah,
sangat mudah sekali,
jika dibandingkan dengan keharusan
untuk memelihara daya tarik
untuk tetap pantas dicintai.
Tapi,
orang yang sering menuntut dicintai,
sering lupa untuk tetap menjadi
pribadi yang menarik.
- 02.30
- 0 Comments
Udara di pantai memang enak dan unik. Pasirnya pun tak kunjung marah walaupun aku injak berjam-jam. Lelah berjalan, aku memutuskan untuk duduk di pinggiran pantai. Bosan dengan rambut terikat, ku lepas karet yang mengikat rambutku. Ku hembuskan nafas kencang dan kembali berfikir. Kemana dan bagaimana lagi. Cinta harus dimengerti. Pengertian seperti apa yang diminta? Berbicara cinta memang tidak akan pernah habis, di setiap detik manusia pasti berbicara cinta. Entah cinta yang seperti apa, tidak tahu. Yang aku tahu, aku terjebak dalam pengertian cinta yang salah. Sedang aku cari kapan aku mulai salah memulai mengartikan pengertian cinta itu. Yang aku ingat, aku terkurung suatu keadaan yang benar amat sulit untuk aku robohkan dindingnya. Bagaimana tidak, aku dituntut untuk menjadi orang lain. Demi menyelamatkan dirinya agar tak cepat mati, semua yang dia katakan harus aku turuti. Jujur, aku takut dia meninggalkanku cepat. Jadi suka tidak suka, aku harus suka. Walau aku tahu, semua itu perlahan meredupkan cahaya yang menyelimutiku. Aku telah membuat marah Tuhan karena ketidakberdayaanku berani meredupkan cahaya tulus yang telah Tuhan ciptakan untukku seorang. Di tengah pikiranku yang kalut, Tuhan menamparku dengan menyuruh ombak untuk membanting sekujur tubuhku, aku menangis. Aku menangis semakin kencang, semakin kencang ketika aku tahu Tuhan benar-benar marah padaku. Kembali aku ingat huruf-huruf suci yang aku baca setiap hari bersama ayah tercinta sewaktu kecil. Ibu mendandaniku dengan kerudung merah jambu dan mencium keningku sembari berdoa jadilah wanita yang baik bagi Tuhan, jangan buat marah Tuhan, dan jangan sakiti Tuhan. Dengan wajah bercahaya, aku pun berkata iya dan menggapai tangan ayah. Ayah menggendongku sepanjang jalan dan bercerita betapa hebatnya Tuhan. Ayah mengatakan padaku Tuhan itu Superhero yang tak terkalahkan. Sejak saat itu, setiap mengaji aku selalu menulis di buku tulisku I Love You, My Superhero. Aku kira, aku akan selamanya seperti itu. Tidak membuat sakit dan marah Tuhan. Tapi semenjak aku mengartikan cinta dengan salah, aku mengecewakanNya. Maaf Tuhan.
Pengunjung pantai mulai berdatangan dan membuatku memutuskan untuk berdiri pulang. Ku lihat para pedagang pun mulai membuka lapaknya, raut muka yang siap memborong rezeki. Peluit tukang parkir mulai terdengar bising di telinga. Suasana sudah jauh berbeda dengan suasana pantai pagi buta tadi. Heningnya sudah berubah. Ombaknya pun sudah tak semarah sewaktu aku duduk disana. Pelan ku lenggangkan kakiku melangkah, muka yang ku lipat tadi perlahan ku buka lipatannya dan segera aku tersenyum seraya menyambut pagi pukul 09.00. Aku berangkat terlalu pagi ternyata, sampai tak sadar sepeda yang aku naiki tadi ternyata bocor. Mau tak mau aku harus menuntun sepeda lama sampai aku menemukan tukang tambal ban. Jalanan yang naik turun membuat nafasku mulai tak baik nadanya. Tapi tak sia-sia, di dekat toko kelontong yang belum buka akhirnya aku menemukan tukang tambal ban. Aku bersandar di tembok bengkel sambil menata kembali nada nafas yang tak baik tadi. Tak ada minuman, haus. Tak lama menunggu, aku sudah bisa mengendarai sepeda yang sempat bocor tadi. Ku tengok jam tangan yang baru aku beli kemarin di butik terkenal dekat kampusku, waktu menunjukan pukul 09.55. Ku buru sepeda yang aku naiki. Kembali aku membelokan pikiranku ke kegalauan yang akhir-akhir ini sering menyerangku ganas. Aku malas berangkat kuliah jam 11.00 nanti, rasanya sudah tak ada gairah lagi untuk menjadi seorang ilmuwan. Penggaris dan pensil sudah bukan lagi sahabat terbaikku, mereka lebih pantas monster-monster di komik atau film kartun di televisi-televisi sekarang. Sahabat terbaikku sekarang adalah tanda seru atau sepotong kue yang sudah kadaluarsa. Hidup sekarang lebih seperti lumpur hidup yang menghayutkan dan mematikan. Sulit atau malas untuk dilewati. Banyak orang yang buta tuli rasa dan moral, penyebar ketololan dan kebohongan akidah yang siap menghina orang menjadi sosok hina paling hina di mata pencipta hebatnya. Orang sudah tak bisa lagi menghindar meski berbagai macam bentuk pengaman diciptakan dan dikenakan. Hidup sudah hina dan termakan usia, sia-sia. Membuat marah Tuhan seperti sudah biasa, biasa.
Lama berfikir melayang berorasi protes, aku memasukan sepeda di garasi rumah dan menuju kamar, membanting tas dan mandi. Segar sekali rasanya bersatu dengan air, seperti lahir kembali dan bebas dari kotoran-kotoran hidup. Aroma bengkoang pun mengiringi kebebasan itu layak sang putri raja. Handuk merah jambu membalut kelikuan tubuhku bagai bayi. Keluar kamar mandi, aku menuju lemari dan mengambil skinny jeans hitam dan t-shirt putih polos. Hidup di negeri orang memang susah, jauh dari orang tua yang entah rukun atau tidak dan hidup di satu rumah sendirian. Merajut dan merekam kehidupan sehari-hari bersama problematikanya seorang diri. Proses pendewasaan yang tidak terlalu nikmat. Pukul 10.30 berlalu, satu telor ceplok dan segelas susu putih sudah cukup untuk wanita 19 tahun sepertiku. Di umurku 19 tahun ini, aku merasa lebih pantas sebagai seorang kritikus hidup. Tukang orasi dan penggugat ketidakbenaran yang hidup dan berkembang di lingkungan sekitarku. Kuliah di arsitektur tidak membuatku menjadi pengukur ukuran hidup yang pas malah justru lebih membuatku semakin ganas berbicara bak tokoh negara berdasi. Alasannya mudah, karena aku sudah benci hidup yang sekarang. Sudah tidak aku temukan warna indah seonggok bangunan seperti tempo dulu ketika aku masih benar mengartikan cinta lawan jenis. Daun segar yang sekarang menguning layu entah terbang melayang kemana, tiada tujuan pasti dan indah. Lelakiku telah menimbun daun itu dan membawaku tanpa tujuan yang pasti dan sangat membuatku menjadi tak indah lagi. Lelakiku mengurungku di dalam kurungan ayam yang bau. Katanya sebagai wujud tanda cinta, ah tai kucing. Indah sekali ia bersenandung atas nama cinta. Lelakiku sakit jiwa, tak ingin ditinggalkan tapi menyakiti. Tak ingin tanda bagi tapi memberiku tanda seru. Benar aku mencintainya, tapi dimana cintanya aku tak tahu. Di hatiku atau ragaku. Aku benar-benar tak tahu. Membuat kepalaku botak dan semakin hari semakin membuat pembuluh darah di otakku tersumbat. Bingung harus kemana dan bagaimana dan mengadu kepada siapa? Kepada satu telor ceplok dan segelas air susu? Gila.
Ku habiskan sarapan kesepian segera, ku ambil ransel coklat mudaku dan berjalan malas ke luar rumah menuju kampus. Sepeda kesayangan ku ontel menuju kampus yang penuh sesak ilmu dengan santai. Jarak rumah yang cukup dekat dengan kampus membuatku untuk memilih sepeda sebagai kendaraan indah sehari-hari. Sehabis pengumuman ujian masuk universitas, orang tuaku memilihkan rumah kontrakan di daerah yang kurang lebih dekat dengan kampusku. Entah apa tujuan orang tuaku memilih aku untuk mengontrak rumah kecil ketimbang kost. Kata mereka aku calon arsitek, jadi harus mandiri. Apa hubungan dan maksudnya? Belum tahu, aku penurut. Tapi meskipun mereka sudah tak bersama lagi, mereka masih menjadi orang yang paling mengerti aku, mereka faham aku bukanlah orang yang suka dengan keramaian dikala belajar. Jika ada masalah aku pun memilih sendiri dan bergelut dengan alam ketimbang harus meronta-ronta, memeras air mata dengan tisu 5 bungkus bersama para sahabat. Sesampainya di kampus, aku tak banyak bicara. Jika tidak penting, aku lebih memilih diam sebagai pembicaraan. Lebih tepatnya aku pendiam, tak suka banyak bicara. Dosen masuk, berbicara panjang lebar dan memberikan ritual yang tak bisa dihilangkan yaitu tugas perkuliahan yang semakin membuat macet otak. Mati kehabisan nafas karena tugas kuliah adalah penyakit yang paling wajar seorang mahasiswa. Tapi mati karena kehabisan cinta dan menjadi tidak bermoral adalah penyakit tak wajar seorang mahasiswa. Cinta fluktuatif sepasang mahasiswa memang unik dan menegangkan hidup. Mencekam dan bikin geram. Sakit.
Cinta yang tidak bisa ditebak dan berubah-ubah, cinta karena hati atau karena raga yang gemulai. Kembali tanda tanya menguak di permukaan. Sepulang kuliah, aku memutuskan untuk tidur. Udara luar yang panas membuat kulitku terbakar. Membuatku teringat akan neraka. Ingat dosa. Ingat mati. Ingat Tuhan. Teringat cerita orang kotor yang lancang minta surga. Ku buka pintu rumah dan menguncinya kembali. Hari ini aku malas untuk mengangkat telepon atau sekedar membalas sms. Berkali-kali teman, keluarga, bahkan lelakiku menghubungi nomorku tak ada satu pun yang aku angkat atau balas. Hari ini aku tak minat diganggu. Ku matikan handphone dan meletakannya di meja rias kamar. Ku baringkan tubuhku santai dan mulai memejamkan mata berharap bertemu cahaya terang di alam mimpi. Tak lama aku terlelap, jauh meninggalkan alam sadar. Saat yang benar-benar aku tunggu aku bertemu Pelangi disana. Aku bercakap santai dan tanpa sadar aku mulai mengadu tentang kegalauanku kepada Pelangi itu.
“Kau ingin bertemu denganku, Bocah Kecil?” kata Pelangi
“Iya, tapi kenapa kau memanggilku bocah kecil? Aku sudah dewasa. Umurku 19 tahun, aku seorang mahasiswa. Aku bukan bocah kecil lagi! Panggil aku wanita dewasa kalau kau mau.”
“Baiklah wanita dewasa, ada apa kau mencariku?”
“Kenapa kau tak kunjung datang dalam hidupku? Dan kau membiarkan badai temanmu itu terus bertamu di hidupku. Aku bosan melayani tamu seperti dia. Kapan kau mau datang?”
“Kau ingin bertemu denganku hanya ingin menanyakan hal itu?”
“Iya. Aku menunggu Pelangi. Kenapa kau tak ada setelah badai datang? Harusnya kau ada setelah itu. Tapi kau tak ada, kemana?”
“Badai itu belum ingin berlalu, sayang?”
“Kenapa?”
“Ingat dengan Superheromu? Ingat pada deret angka, hitung, dan tanda baca yang baik nan suci itu?”
“Kau mengejekku, kau kira meski aku dalam keadaan kotor aku sudah tak ingat Superheroku itu?”
“Tidak. Aku percaya kau tak pernah melupakanNya”
“Terus apa maksudmu bertanya seperti itu?”
“Superheromu belum mengizinkan aku datang kepadamu. Sabarlah menunggu, aku akan datang setelah badai itu berlalu. Kalau kau percaya pada Superheromu, kau akan tahu betapa Ia sangat mencintai wanita dewasa sepertimu?”
“Aku percaya kepadaNya, dan aku akan tetap berusaha mempercayaiNya walau terkadang aku tak faham akan maksudNya. Kau tahu aku tertekan oleh berbagai masalah, aku yang selalu memilih diam sebagai pembicaraan di dunia. Badai yang mengamuk itu tak kunjung reda, kau tahu dan melihatnya. Tapi kenapa kau diam dan tidak menolongku. Setidaknya hanya sekedar mewarnai hidupku sejenak dengan warnamu itu, keberatankah?” berontakku
Aku menangis dan mengerang kesakitan. Aku ingat keluargaku yang tercerai berai, aku ingat sahabat yang mengaku sahabat yang meninggalkanku hanya karena manisnya uang, aku ingat ayah yang menggendongku waktu kecil, aku ingat ibu yang mencium keningku dan memohon aku untuk menjadi arsitek hebat, aku ingat orang-orang yang paling aku sayang yang lebih dulu meninggalkanku tanpa sempat aku melihatnya untuk terakhir kalinya, aku ingat lelakiku yang memberiku cinta tapi cinta seperti apa aku tak tahu. Pelangi meninggalkanku, pelan warna indahnya memudar. Aku terdiam. Dan tak lama badai datang. Lalu aku bangkit dan segera berlari sekencang-kencangnya. Aku terbangun dan kembali ke alam sadar.
“Mimpi indah yang memuakkan” umpatku
Aku bangkit dari tempat tidur dan duduk di kursi samping jendela kamar, menenangkan diri sembari menyisir rambut ikalku yang berantakan. Langit sore mendung, pertanda akan hujan. Ku tatap langit biru yang sekarang menghitam. Hujan deras mengguyur semua fikiran yang bergesekan di otakku tadi. Di tengah lamunanku, bel berbunyi. Setengah sempoyongan aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Lelakiku datang, sedikit bahagia namun biasa.
“Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?”
Ku usir tangannya dari dahiku.
“Maaf aku muak denganmu.” gerutuku dalam hati.
Dia menatapku tajam seperti biasa matanya bagai singa yang siap menerkam mangsanya.
“Jangan tatap aku seperti itu.” kataku pelan
“Kamu kenapa, Sayang? Kenapa handphonemu mati? Aku jadi tak bisa menghubungimu, Sayang?”
Kata-katanya seperti kata-kata seorang bayi yang tak berdosa, yang masih bersih dan tidak pernah menyakiti. Tangannya mulai nakal memainkan tubuhku dan dengan kasar aku menamparnya. Semua di luar kendaliku, hari ini aku benar-benar muak dengan hidup. Segera aku masuk kamar dan duduk di kursi samping jendela tadi, kembali menenangkan diri.
“Kenapa kau menamparku? Ada apa denganmu? Kau seperti orang sakit jiwa!”
“Kau bisa pulang atau diam di situ. Dan jangan usik aku di sini, dengar?”
“Oke, aku akan diam disini sampai kau tenang.”
Ingin sekali mengambil pisau di dapur dan segera membunuhnya. Lelakiku yang penuh tanda bagi tak sadar telah melukai wanitanya setelah dengan indah memainkan tubuh wanitanya. Sungguh lelaki hina yang paling hina tapi aku cinta, ah muak. Aku tahu dia telah menduakanku. Tapi aku memilih diam, pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu. Tanya kenapa? Karena aku mencintainya dan percaya padanya. Aku tidak peduli dengan proses pembagian dan penyalahgunaan kepercayaan yang dia buat itu, yang terpenting dia tidak meninggalkanku. Itu saja.
“Kalau kau mencintaiku, pergilah.” kataku perlahan
Dia berjalan ke arahku dan memelukku erat. Ku lihat matanya memerah, tak tahu merah menangis atau merah karena begadang dengan wanita-wanitanya. Ini yang membuatku terkadang ragu akan penilaianku, cinta yang seperti apa yang aku minta dan aku salahkan. Ia cinta akan hati atau akan raga, aku benar-benar tak tahu. Aku benar-benar tak bisa merobohkan dinding itu. Ia membagiku tapi ia tak rela jika aku meninggalkannya, apa pun yang ia minta harus aku turuti. Terkadang ia seperti mencintaiku dengan cinta yang aku minta. Tapi kadang ia mencintaiku dengan cinta yang tak aku minta. Dia telah menyulap segumpal darahku dengan sebentuk wajahnya, yang tak bisa untuk rela aku tinggalkan dan biarkan ia sakit meskipun ia telah menyakitiku sakit.
- 00.39
- 1 Comments
Tulisan tangan terbentuk dari rangsangan kecil dari otak sehingga sering sekali para ahli grafologis menyebut tulisan tangan adalah “tulisan otak.” Grafologi merupakan sebuah ilmu yang empirik, karena ilmu ini dibuktikan berdasarkan fenomena dalam satu populasi dan ada kuantifikasi hasil atau ada hasil dari uji statistik yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kegunaan grafologi bisa kita lihat sejak 6000 tahun yang lalu, di masa Cina kuno. Pengetahuan mereka berpindah ke orang Yunani dan Romawi, dan Kaisar Nero menggunakannya untuk menentukan orang yang bisa ia percaya.
Buku pertama yang muncul tentang tulisan tangan ditulis oleh orang Italia, Camillo Baldi pada tahun 1622. Namun, kata ‘grafologi’ sesungguhnya diungkapkan oleh Jean Michon, orang Perancis, pada abad ke-19. Kata tersebut datang dari bahasa Yunani ‘graphÃ’ yang berarti menulis, dan ‘ology’ yang berarti ilmu.
Michon membentuk Graphological Society (Lembaga Grafologi) di Paris, yang berkembang sampai masa Perang Dunia Kedua (1939-1945). Penulis Edgar Allan Poe juga mempelajari tulisan tangan dan mempublikasikan penemuannya, serta menyatakan kata ‘autograph’ untuk menjelaskan pendekatannya.
Grafologi dipelajari di Klinik Psikologi Harvard tahun 1930 oleh Gordon Allport, dan pada tahun 1955 Klara Roman dan George Staemphli mengembangkan faktor-faktor penting untuk menilai karakter dari tulisan tangan. Di banyak universitas Eropa, grafologi adalah bagian dari kurikulum untuk jurusan grafologi.
Sekarang ini banyak area dalam hidup di mana grafologi dianggap sangat berguna. Menilai tulisan tangan sangatlah membantu dalam banyak bidang saat ini. Contohnya dalam bidang pendidikan, kita dapat mengetahui bakat dan minat seseorang, pelaku kekerasan disekolah, dan dapat pula digunakan untuk konseling atau BK.
Grafologi juga digunakan di bidang kriminalitas, forensik, dan konseling. Analisis tulisan tangan sangat penting dalam menentukan apa ada dokumen yang dipalsukan, karena masih tetap bergantung pada fakta bahwa tiap orang menulis dengan cara yang berbeda dan variasi sekecil apapun bisa diketahui. Grafologi juga bisa digunakan para ahli untuk mendiagnosis penyakit mental, dan bisa digunakan oleh polisi untuk mendapatkan gambaran tentang kesehatan mental dari tersangka.
Jadi bagaimana anda bisa menggunakan grafologi dalam kehidupan sehari-hari? Anda bisa menggunakannya untuk mendapatkan ide yang keren tentang karakter dan kemampuan diri anda, dan juga untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam dari teman dan juga keluarga anda. Kalau anda bisa melihat tulisan tangan seorang cowok atau cewek, ini bisa memberi anda petunjuk seperti seberapa bagus dia bila menjadi teman kencan dan apakah anda berdua akan cocok atau mengalami kendala dalam menjalani hubungan.
Bagi anda yang menaruh minat dan ingin mempelajari grafologi, perlu diingat bahwa grafologi, seperti seni lainnya, perlu diperlakukan dengan hormat. Sangat tidak adil untuk mengambil contoh tulisan tangan seseorang lalu dibagi-bagikan ke teman-teman anda tanpa diketahui orang tersebut! Juga, jangan menyuruh orang untuk memberi contoh tulisannya tanpa sepengetahuan mereka.
Mereka punya hak untuk menjaga privasinya, dan anda akan punya kesenangan yang lebih banyak lagi dengan tulisan orang yang benar-benar mau ambil bagian dan yang bakal memberi tahu kalau anda ‘bisa menilai’ apa tidak-dengan begitu anda belajar lebih banyak lagi. Dalam grafologi juga, seseorang akan semakin ahli sejalan dengan jam terbang (learning by doing).
Majalah Grey edisi 69 Feb-March 2009
(www.psikologizone.com)
- 23.34
- 0 Comments
- 21.43
- 0 Comments
- 21.31
- 0 Comments
- 21.28
- 0 Comments
