Cemara Cemar Cerita


Mari kita mulai dari cerita ini.
Gemuruh air pantai dan suara kepakan sekelompok burung yang sedang menikmati suasana pantai.
Tatapan kosong dan sebuah telepon genggam yang dipegangnya erat-erat.

Apa yang dipikirkan seorang wanita ketika ia merasa keadaannya di ujung tanduk menginginkan sebuah jawaban dari pertanyaan yang bisa jadi bodoh atau tak memerlukan jawaban? Tentu saja sama bodohnya dengan pertanyaan itu dan ia pun tak menemukan jawaban karena pertanyaan itu sama sekali tak memerlukan jawaban.
Benar atau salah. Iya atau tidak. Sepertinya jika diibaratkan hanyalah sebuah kepercayaan yang orang imani bisa membawanya ke surga terindah. 
Dia sudah tahu. Dia harus bergerak. Mencari kebenaran bukan hanya dengan berdiam diri bersama gemuruh air pantai dan suara kepakan sekelompok burung.

Dia mulai memainkan telepon genggam yang ia pegang erat-erat. Tangannya bergerak mengikuti pikirannya yang mulai gaduh. Ternyata keinginan yang teramat kuat mampu membuat pikiran orang yang begitu tenang, gaduh bukan kepalang.
Tunggu sebentar, dia membatalkan gerakan tangannya. Perlahan menghilangkan satu per satu huruf yang ia mainkan. Dia mendekatkan telepon genggam itu ke sebelah kanan telinganya. Mulutnya begitu tenang, tak segaduh pikirannya. Dia berbicara sangat tenang.
Dia telah terkurung begitu lama. Entah karena ruangan yang mengurungnya begitu kedap suara, begitu indah, atau begitu menjanjikan segala-galanya, hingga ia benar-benar bodoh tidak memedulikan suara-suara di sekitarnya yang sudah berteriak hingga tenggorokan mereka kering untuk segera meninggalkan tempat itu.

Kereta malam membawanya ke tempat yang yang ia tuju. Udara dingin menyambut. Dia kembali dengan tatapan kosong. Di setiap jalan yang ia tatap melalui jendela kereta berlalu begitu saja seperti waktu yang telah dilupakan begitu cepat oleh laki-laki yang sudah membohonginya.

Mari kita tutup dengan cerita ini.
Kau melihatnya membeku di sebuah ruangan di rumah sakit. Masih setengah tak percaya. Kau mendengarnya bercerita tak lengkap. Tak meneteskan air mata sedikit pun dan berkata, “Dia benar tidur bersama wanita itu. Bukan hanya itu. Dia juga benar tidur bersama tujuh wanita lainnya.”
Lalu dia melepas infus yang terpasang di tangannya. Dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit seperti tak pernah terjadi sesuatu yang amat besar memukul kehidupannya.

Celaka!

Rasa rindu yang mulai agresif sanggup melemahkan berbagai jenis perasaan yang biasanya tak kalah agresifnya di pagi hari. Rasa mulas di pagi hari, rasa lapar, dan rasa kantuk, rasa-rasanya cuma rumput-rumput liar yang biasanya tak kupedulikan. 

Aku sudah seperti di gorong-gorong selokan. Gelap. Pengap. Bersandar di lengkungan gorong-gorong, berpura-pura menikmati dan membayangkan ini seperti rumah.

Anyir. Penuh sampah. Cacing, bakteri, plankton, dan  jenis makhluk hidup lain yang merasa bahwa ini rumahnya menari-nari mengisyaratkan bahwa ini surga. Celaka!

Ritme ini membingungkan dan membuatku kepalang jalan di tempat.

Celaka! Rasa rinduku bukan lagi kentut yang keluar nakal lalu menghilang terserap udara. Bukan juga pengandaian tentang gelap dan baunya gorong-gorong.


Rasa rinduku adalah pertanda. Pertanda bahwa aku harus memedulikan rumput liar. Aku rindu rumah. 


Jakarta, 01 Juni 2015

Bali Kintamani

Bertemu denganmu membuatku sadar bahwa kamu adalah satu-satunya keikhlasan yang mampu membuatku mencintai dalam diam. Berperang dengan perasaan-perasaan yang tidak aku sanggupi, menyumpah-nyumpahi segala kebodohan-kebodohan yang hampir setiap detik aku lakukan demi mengkhayalkan kehadiranmu. Mungkinkah memang selalu seperti itu yang namanya gejolak jatuh cinta? Mungkinkah memang selalu seperti itu yang namanya haru biru merindukan seseorang yang kita cinta? Iya, aku merindukanmu. Sudah 6 bulan lebih 9 hari, kamu menghilang dari hadapanku. Sudah ribuan drama menyibukkan diri yang aku mainkan. Sudah ribuan doa terpanjat untukmu yang entah merindukanku atau tidak.  Tahukah kamu, pernah suatu hari rasanya aku ingin menyerah?
Bali Kintamani. Hit and miss in the past.
Itulah kalimat analogika salah satu warung kopi di Yogyakarta untuk menggambarkan menu kopi Bali Kintamani di menunya. Kopi yang selalu bisa membuatku jatuh cinta dan menyerah sekaligus. Kopi yang mendekatkan dan menjauhkan kita. Kopi yang menumbuhkan bentuk-bentuk perasaan kasih sayang yang tidak pernah bisa kita berdua sanggupi. Masih teringat jelas pertemuan kita tiga tahun yang lalu di dalam kereta tujuan Yogyakarta-Jakarta saat itu. Pertemuan yang lambat laun membawaku ke perasaan sejenis “cinta sendiri”. Saat itu, kamu hampir terlambat menaiki kereta. Sedangkan aku sudah memasang posisi nyaman di dalam kereta dengan dua sumpalan headset di kedua telingaku. Saat itu aku adalah seorang  fresh graduate yang sedang limbung mencari-cari pekerjaan yang sungguh benar-benar memusingkan kepala, menguras tenaga, dan menurunkan berat badan begitu drastis. Saat itu aku tidak begitu memperhatikanmu bahkan memperhatikan wajahmu seperti apa pun tidak. Kalau saat itu kamu tidak mengajakku berbincang terlebih dahulu, mungkin cerita kamu dan aku hanyalah dua orang manusia di muka bumi yang duduk berdampingan di salah satu gerbong di sebuah kereta tujuan Yogyakarta-Jakarta. Sayangnya, nampaknya Tuhan berkehendak lain. Sederet kalimat “Turun dimana, Mbak?” membawa kita ke cerita aku dan kamu yang jauh lebih dari sekedar dua orang manusia di muka bumi yang duduk berdampingan di salah satu gerbong di sebuah kereta tujuan Yogyakarta-Jakarta. Stasiun demi stasiun, kilometer demi kilometer menjauhi kota Yogyakarta, percakapan demi percakapan mengalir dengan liarnya. Entah kenapa saat itu aku bisa langsung tertawa sangat lebar dengan orang yang baru beberapa menit aku kenal di dalam kereta. Entah jenis aroma keromantisan apa yang ada di dalam kereta itu sehingga mampu membuat kita berdua terus memadu satu per satu jenis obrolan yang sebenarnya mungkin mengganggu penumpang lain saat itu. Kehangatan percakapan yang menyeruak begitu saja membawa kita saling bertukar identitas kehidupan masing-masing. Kamu adalah seseorang yang sedang sama limbungnya mencari pekerjaan. Kamu adalah mantan seorang illustrator di salah satu industri kreatif di Yogyakarta yang keluar karena bosan dan sedang melakukan perjalanan ke kota Jakarta untuk memenuhi panggilan pekerjaan. Sedangkan aku adalah mantan mahasiswa Sastra Indonesia di salah satu Universitas di Yogyakarta yang sedang limbung mencari-cari pekerjaan, sedang kangen rumah di Bogor.
Lalu entah bagaimana, setelah turun dari tujuan masing-masing. Keesokan harinya kita bisa bercakap-cakap via aplikasi whatsapp dan saling berjanji untuk bertemu lagi ketika sudah di Yogyakarta. Seminggu setelah pertemuan itu, kita berdua sepakat untuk bertemu di salah satu warung kopi yang konon kabarnya terenak di Yogyakarta. Kopi Bali Kintamani adalah kopi pilihan kita berdua. Tidak ada kesepakatan apa pun terkait pemesanan menu yang entah kebetulan atau memang jodohnya, kita berdua sama-sama memesan kopi itu secara bersamaan. Pertemuan kedua berlangsung sangat menyenangkan. Dibawah lampu-lampu warung kopi yang samar kuning kecoklatan, kamu mampu menyihirku dengan sejuta bentuk kekaguman yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Lebih tua 3 tahun diatasku ternyata membuatmu begitu mahir dalam membawa percakapan demi percakapan ke arah yang tidak membosankan. Hingga di pertengahan malam, percakapan kita beralih menuju ke kisah-kisah percintaan kita di masa lalu. Untuk tema-tema cinta-cintaan memang ahlinya seorang wanita untuk bercerita jauh lebih banyak. Memang sudah naluriah seorang wanita nampaknya ketika sudah menemukan teman curhat yang nyaman, segala-galanya yang berhubungan dengan permasalahan hati akan ditumpahkan begitu saja tanpa memperhatikan betapa jemunya lawan bicara kita saat itu.
Dikhianati bertahun-tahun dan mengalami bentuk kekerasan-kekerasan seorang laki-laki bertabiat pencemburu stadium V, membuatku tumbuh menjadi perempuan 22 tahun yang lebih kebal dengan serangan patah hati atau hujaman ribuan tombak pengkhianatan sekalipun saat itu. Setahun membenahi diri, mengobati hati dan menata kembali kehidupan agar lebih wajar seperti perempuan 22 tahun lainnya, aku berhasil menjadi Mayang 22 tahun versi baru. Aku lulus kuliah tepat waktu. Meskipun semua belum berjalan sesuai dengan harapan, namun ada dua hal yang paling aku syukuri saat itu yaitu mulai saat itu dan seterusnya aku tak akan pernah bersama dengan laki-laki itu lagi dan entah kebetulan atau takdir, aku bisa bertemu dengan laki-laki sepertimu. Laki-laki impian.
Kamu baik. Caramu berpikir dan memandang sesuatu membuatku merasa sedikit ada persamaan. Caramu menyelesaikan suatu permasalahan tidak pernah membuatku sedikitpun merasa keberatan. Penampilanmu tidak begitu rapi, mungkin cenderung sedikit berantakan. Santai tepatnya. Tubuhmu kurus, lebih tinggi 20 cm diatasku. Bentuk wajahmu lonjong, bola matamu cokelat, bentuk alis yang menghiasi dahimu tidak menggambarkan orang yang berwatak pemarah. Satu lagi yang paling aku suka, kumis tipismu.
Bali Kintamani. Hit and miss in the past.
Kopi Bali Kintamaniku masih terisi setengah. Di luar warung kopi terdengar butir-butir air hujan yang saling bersusulan membasahi tanah Yogyakarta yang cukup bisa dibilang “panas” hari ini. Hari ini aku meliburkan diri. Surat kabar tempatku bekerja pun merasa tidak keberatan jika aku meliburkan diri. Seluruh tanggungan artikel untuk rubrik koran minggu depan sudah kuselesaikan dengan cepat. Sepanjang sepak terjangku di dunia pekerjaan, aku adalah satu-satunya karyawan yang mungkin hanya hitungan jari mengambil jatah-jatah cutinya. Aku ingat sekali, pertama kalinya aku mengambil jatah cuti pertamaku karena ayah jatuh sakit saat itu. Jatah cuti kedua, aku gunakan untuk liburan ke Bali bersama kedua orangtuaku. Jatah cuti ketiga, mulai hari ini dan 6 hari kedepan aku gunakan karenamu. 
Aroma kopi Aceh Gayo menyeruak dari bilik meja yang sedari dulu tidak pernah bergeser sedikitpun posisinya. Bahkan mesin-mesin penggiling kopi yang bertengger disana, cangkir-cangkir kopi yang bergelantungan dan toples-toples kedap udara yang berisi beraneka ragam kopi-kopi nusantara disana, tidak ada yang berubah. Hanya kita yang berubah, aku rasa.
“Mas Dimas kemana, Mbak?”
“Ga tau, Jo. Udah jarang ketemu.” jawabku singkat
“Loh, mas Dimas bukannya di Yogya aja ya? Dia masih kerja di studio punyanya Pak Jarwo, to?”
“Iya masih kok, Jo. Cuma udah ga pernah ketemu lagi sejak terakhir ngopi bareng disini.”
“Oh gitu to. Eh Mbak Mayang habis acara apa di kantor kok masih pakai kebaya?”
“Kamu kok kepo banget to. Udah. Kerja sana.. ”
Aksi sapa yang berbalut pertanyaan yang dilakukan Tejo, salah satu pelayan Warung Kopi yang hampir 3 tahun tidak pernah kehilangan selera keramahannya membuatku kembali sendu mengingatmu. Sekarang umurku 25 tahun, kamu 28 tahun. Sudah 3 tahun kita saling mengenal. Milyaran pesan singkat dan gelombang suara via udara sudah kita ciptakan pagi, siang, dan malam. Berbagai bentuk pertemuan sudah kita lakukan. Berbagai cerita pahit, manis, dan hambar sudah sama-sama kita rasakan. Dan kita pun sama-sama tahu. Hati ini selalu untukmu. Hati itu selalu untukku.
3 tahun menghabiskan waktu bersamamu tak pernah membuatku merasa jemu. Tak pernah membuatku berubah menjadi seorang perempuan yang menuntut memilikimu. Menuntutmu menjadi kekasihku. Entah siapa yang sebenarnya takut jatuh cinta diantara kita berdua. Mungkin aku sehingga sebergejolak apa pun perasaanku kepadamu, tak pernah membuatku membuka mulut memintamu menjelaskan arah hubungan kita sebenarnya. Meskipun terkadang ketika aku sedang sangat merindukanmu, ingin sekali rasanya aku memeluk dan menciummu. Meskipun terkadang ketika kamu tidak ada, aku sangat merasa kesepian. Meskipun terkadang ketika kamu mulai bercerita tentang teman-teman perempuanmu, hatiku hancur berkeping-keping. Di saat-saat seperti itulah rasanya ingin sekali memilikimu. Memilikimu menjadi kekasihku. Pernah suatu hari aku merengek karena sangat merindukanmu. Merengek seakan-akan aku dan kamu adalah sepasang kekasih. Saat itu aku pikir kamu akan menilaiku berlebihan. Tapi tidak. Kamu justru memeluk dan mencium bibirku. Saat itu hatiku menjadi sangat tenang, kerinduanku disambut kerinduanmu juga, perasaanku menjadi semakin meluber. Aku sangat mencintaimu.
Bali Kintamani. Hit and miss in the past.
Malam ini. Di hari yang “membahagiakan” ini, aku merasakan aroma cintamu menyeruak menghadirkan dimensi-dimensi perjalanan cinta kita berdua. Aku tahu, aku tidak salah untuk menjatuhkan hati kepadamu. Aku tahu, kamu mencintaiku. Ada ruang istimewa tersendiri dihatimu untukku. Ada ketulusan kasih sayang yang mengalir apa adanya bersama waktu diantara kita berdua.
Sekarang, kopi Bali Kintamani di cangkirku hanya tertinggal ampas-ampasnya saja. Namun meskipun hanya ampas, justru kenikmatan dan kelembutan cita rasa kopi Bali Kintamani terletak pada ampasnya. Pada bagian akhirnya.
Hari ini menjadi alasan kenapa tipe pekerja sepertiku mengambil jatah cutinya secara mendadak. Seminggu yang lalu saat mata sudah mulai terkantuk-kantuk, lipstik sudah luntur dibawa ribuan deadline surat kabar, ditambah lagi dengan kemisteriusan orang yang paling dicintai menghilang tanpa kabar. Ada sebuah bingkisan terselip dibawah pintu kamar kost. Bingkisan itu berwarna cokelat muda. Di bingkisan itu ada sebuah undangan dan kebaya warna hijau muda.
Semakin malam, warung kopi ini semakin ramai. Berbagai aroma kopi saling bertukar posisi menghinggapi hidung. Terkadang cinta jika semakin sulit justru semakin mengajarkan kita banyak hal. Mencintaimu membuatku sadar bahwa kamu memang satu-satunya keikhlasan yang mampu membuatku mencintai dalam diam. Mencintaimu membuatku sadar bahwa yang namanya cinta itu ikhlas. Tidak pernah memaksa, bagaimanapun keadaannya. Jika memang cinta, pastilah tidak akan ada bentuk pemaksaan model apa pun. Memaksa dia harus seperti harapan kita. Memaksa dia harus berpenampilan sesuai selera kita. Memaksa peristiwa demi peristiwa agar sesuai dengan dengan skenario yang kita buat. Memaksa untuk dia, orang yang telah membuat hati kita berbunga-bunga untuk menjadi milik kita dan model-model pemaksaan lainnya. Semua itu tidak ada pada kamus cinta. Cinta itu mengalir. Jangan memaksa. Jangan membuat jalan cerita sendiri. Itu bukan cinta tapi cuma suka. Cinta hadir tidak terburu-buru. Cinta hadir perlahan, mengikuti arus, menguji iman dan kesabaran. Cinta juga menguatkan. Sepelik dan semenyakitkan apa pun perjuangan cinta itu. Dia tidak akan membuatmu lelah, justru malah semakin membuatmu kuat. Cinta tidak akan pernah membuat kita terinjak-injak bahkan mati konyol sekalipun. Cinta itu pemberian yang paling indah dari Tuhan. Jadi tidak mungkin cinta itu merendahkan kita dan membuat kita menjadi pribadi yang penuh kekerasan. Itu jelas bukan cinta.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun semenjak mengenal dan menjatuhkan hati kepadamu, aku merasa mencintaimu seperti ini sudah cukup. 3 tahun bersama, menjadi orang yang selalu menemani hari-harimu itu sudah cukup. Berbagi cerita dan mimpi bersamamu. Tertawa dan menangis bersamamu. Menghabiskan pagi, siang, dan malam dengan berbagai momentum yang tak terlupakan. Semua itu sungguh cinta yang sangat luar biasa. Kamu tidak akan pernah kehilanganku. Aku  bisa menjadi teman perempuanmu sampai kapan pun, dalam keadaan apa pun, bahkan dalam keadaan mengetahui kamu tidak akan pernah menjadi milikku sekalipun.
Hari ini mataku seperti terbakar. Pedih, panas, namun tidak bisa berair. Kamu semakin tidak bisa kujangkau. Sejak pertemuan kita 6 bulan yang lalu, saat kamu tak memesan kopi Bali Kintamani seperti biasa. Saat itu lah kusadari bahwa kamu tak mungkin ku temui lagi. Entah kenapa, saat itu wajahmu kulihat sangat murung. Desahan suaramu meninggalkan pertanyaan sekaligus takut kehilangan.
Dengan kebaya hijau muda yang masih aku kenakan malam ini, siang tadi di Masjid Agung Syuhada Yogyakarta , aku menyaksikanmu mengucap ikrar cinta kepada perempuan pilihan orangtuamu. Kamu begitu tampan. Aku duduk di seberangmu tepat dibelakang pak ustadz. Rambut panjangku, kukepang ke samping. Beberapa detik aku sempat menjauhkan diri ke lamunan, membayangkan nama yang kamu sebut di janji sehidup semati itu adalah namaku. Ketika kubuka mata, masih dengan posisi bersalaman dengan pak ustadz, kamu menatap ke arahku. Ada sedikit warna merah di kedua bola matamu, tarikan senyummu menyiratkan kepedihan begitu dalam dan aku sudah menjerit-jerit di bawah alam sadar semenjak mengancingkan kebaya hijau muda ini ke badanku. Perempuan itu tersenyum sangat bahagia. Dapat terlihat jelas di kedua pipinya yang memerah. Kebaya yang ia kenakan sama dengan kebayaku, hanya beda versi. Versi berjilbab. Dia cantik. Serasi denganmu.

Kopi Bali Kintamani di cangkirku sudah habis. Ampas-ampasnya sudah tidak bisa dirasakan lagi, yang tersisa di meja adalah segelas air putih. Kopi ini mengantarkanku kepada dimensi-dimensi haru biru, ketakberdayaan dan impian yang tak sampai.  Kopi ini menghadirkan aroma-aroma kehangatan yang tak bisa membuatku untuk berhenti merindukanmu. Aroma wangi kopi ini saat baru digiling akan selalu membuatku teringat akan ketulusan cinta kita berdua. Cinta yang mengikhlaskan, mendamaikan, mengalir seperti air. Cinta yang hadir perlahan, apa adanya

FIRST LOVE


I just dream all day. They don’t know what’s wrong with me.. and I’m too shy to say. It’s my first love.. what I’m dreaming of. When I go to bed. When I lay my head upon my pillow. Don’t know what to do.. 

yeah, hi :)

April 19, 2012
21.43
Tidak seperti biasanya aku tidur sepagi itu. Hari itu aku hanya merasa kelelahan saja setelah beberapa hari dipenuhi dengan ujian tengah semester. Rasanya sangat lelah. Dengan pelan, aku mulai menarik selimut merah jambu dan meletakan boneka sapi berwarna putih di sebelah kiri dan Leo di sebelah kanan. Lalu beberapa menit berlalu, tibalah aku di pelabuhan mimpi yang biasanya tidak pernah berhasil membuatku tersenyum bahagia. Tetapi, entah mengapa dan apa yang terjadi. Aku merasa malam ini sangat berbeda, segala isi ruangan dalam mimpi ini berbeda. Sangat indah dan membuatku merasa sangat betah dan tak ingin keluar dari alam ini. Aku berjalan menyusuri jalan sepi tanpa arah dengan mengendarai sepeda berwarna kuning. Setelah lelah berjalan, aku memutuskan untuk duduk di bangku taman dan menyandarkan sepeda di pohon. Angin sangat kencang tapi romantis. Beberapa menit kemudian, ada seseorang duduk di sampingku. DIA. Cinta pertamaku... 
Dengan jaket warna abu-abunya, dia duduk terdiam dan menatapku penuh senyum. Entah mengapa, aku merasa seperti bunga yang kuncup dan langsung mekar setelah melihat senyuman di wajah manisnya. Aku seperti terbawa angin kencang yang berembus tadi, aku melayang-layang dan ada dia yang menggandeng tanganku. Aku membalas senyumnya dan ia tersenyum penuh arti. 

" Di senja yang memerah, 
aku merasa tak kuasa untuk terus mengalah..
aku pernah kecewa, terluka, dan mencampakkanmu..
Di senja yang memudar,
kau melukiskan wajahmu di awan..
kau melukiskan hatiku yang dulu kepadamu,
aku jatuh, kau jatuh, dan kita jatuh.. "

Sepintas lamunan tentang kenangan harus memudar saat itu juga, karena kenangan memang memiliki  masanya sendiri yaitu masa lalu. Dia membawaku ke suatu tempat. Di tempat yang sepertinya tidak asing bagiku, dia menangis. Dia menangis di pundakku dan dia berkata bahwa ia mencintaiku. Dia memelukku dan aku hampir tidak bisa bernafas karenanya. Adzan subuh membuyarkan pelukannya dan membuatku membuka mata. Dengan sempoyongan, aku bangun dan segera mengambil air wudhu. Aku menggumam, apa yang terjadi dan apa yang akan terjadi? DIA! apa yang terjadi denganku, kenapa aku tersenyum sebahagia ini? tapi, aku menangis. Iya, mataku menangis tapi kenapa aku merasa bahagia? Tanpa sadar air mata itu semakin deras mengguyur mataku  seusai sholat. Aku melipat mukena serta sajadah dan ku letakan di atas kursi belajarku. Aku melanjutkan tidurku dan berharap aku bisa bertemu dengannya lagi. Ternyata dia kembali memelukku lalu mencium keningku dan masih berkata bahwa ia mencintaiku. 
Lalu kami berjalan-jalan dan mengelilingi kota dengan sepeda kuningku.. kami tertawa bahagia bahkan sangat bahagia... 
Senja sudah datang dan ia mengantarkanku ke rumah. Sesampainya di rumah, ia menemui orang tuaku dan berkata kepada mereka bahwa ia sangat mencintaiku_________

April 20, 2012
07.30
MIMPI YANG SANGAT INDAH! 
Aku bangkit dari tempat tidur dengan semangat dan segera mandi untuk bersiap berangkat kuliah!
Aku tersipu-sipu sepanjang hari dan berharap never stopping untuk kebahagiaan ini!




Pesan Dari Sebuah Buku


Hidup terus berjalan dan berperang di tengah kebahagiaan dan kekecewaan. Manusia adalah perwujudan dari roh atas sebuah kebebasan dan tanggung jawab dari berbagai pilihan hidup. Manusia tidak akan pernah lepas dari roda perjalanan hidup. Manusia akan terus membangun identitas dan eksistensinya sehari-hari. Di suatu saat, mungkin manusia akan merasa terpukul oleh berbagai perubahan hidup. Dan di saat lain pula, manusia akan merasa terbuai di puncak gelombang pasang naik kehidupan. Kata orang bahwa inilah yang menjadikan hidup itu misteri dan ini pula yang menjadikan setiap saat suatu kekecewaan masa lampau. Kedamaian atau harmoni masa kini atau kebalikannya, serta ancaman dan janji saat-saat yang akan datang. Manusia adalah nilai. Manusia adalah suatu integritas. Manusia adalah suatu keunikan dan tidak ada satu orang pun yang memiliki bendera hak untuk memenjarakan hati dan kebebasan akan jalan hidupnya. Manusia adalah hakikat atas keputusan. Orang lain hanya berhak untuk membantu dan bukan menentukan bahkan mengancam.

Aku adalah perwujudan dari roh atas sebuah kebebasan dan tanggung jawab dari berbagai pilihan hidup. Aku akan terus membangun identitas dan eksistensiku sehari-hari. Di suatu saat, aku pasti akan terpukul oleh berbagai perubahan hidup. Dan di saat lain pula, aku akan merasa terbuai di puncak gelombang pasang naik kehidupan. Aku adalah nilai. Aku adalah suatu integritas. Aku adalah suatu keunikan dan tidak ada satu orang pun yang memiliki bendera hak untuk memenjarakan hati dan kebebasan akan jalan hidupku. Aku adalah hakikat atas keputusan.

Gelombang pasang surut kehidupan akan melanda setiap manusia di muka bumi. Hanya saja besar kecilnya gelombang dan kuat rapuh karang yang melindunginya berbeda. Karena itulah manusia tidak akan pernah bisa dikatakan sempurna. Akan ada kekuatan dan kelemahan yang melekat pada dirinya. Akan ada kebaikan dan kejahatan di dirinya. Dan akan ada selalu kebenaran dan kesalahan yang terpaut kuat di dalam dirinya.

Awal aku tidak merasa jika aku berbeda. Hingga suatu malam seseorang bercerita kepadaku tentang banyak hal di hidupnya. Aku merasa sangat kagum dan memiliki energi lebih seketika. Kami bercerita banyak hal, bercerita tentang hidup di berbagai sisi. Semakin malam kami merasa semakin hangat, hingga akhirnya di saat malam sudah enggan bermalam dan hari sudah mulai ingin berganti pagi, di penghujung pembicaraan dan pertemuan kami, dia menyampaikan sekelumit pesan. Dia menyadarkan aku akan keberbedaanku dengan yang lain. Dengan lugas, dia berkata kepadaku bahwa aku adalah orang yang memiliki dan asyik dengan duniaku sendiri. Aku adalah orang yang memiliki cara dan jalan berpikir yang sangat berbeda dengan orang lain. Lalu entah apa yang sudah terjadi, dia menitikan air mata dan menatapku iba. Ia seperti seseorang yang sudah mengenalku lama dan tahu akan jatuh bangunnya aku. Ia seperi malaikat yang datang kepadaku yang tiba-tiba datang mengajakku bertemu dan menerawang pisau-pisau yang tertancap dalam di tubuhku. Dan sejak malam itulah, ia telah memberiku energi lebih hingga sekarang. Ucapan terima kasih dan doa terbaik untuknya, hanya itulah yang bisa aku berikan. J

Albert Camus


" Tamatlah dunia ini,
Jangan bicara omong kosong!
Andai dunia sekarat...
Dunia, boleh jadi; Spanyol tidak.
Bahkan Spanyol bisa mati!
Berlututlah dan mohon rahmat Tuhan!
Ini komet untuk orang jahat.. "

Sebuah prolog favorit saya di salah satu karya seorang intelektual Prancis Albert Camus.
Albert Camus lahir pada tahun 1913 sebagai seorang anak Prancis-Aljazair. Keluarganya berasal dari kelas pekerja Aljazair. Dia pertama kali dikenal di Prancis pada akhir Perang Dunia II saat bekerja di surat kabar perlawanan Combat. Pada tahun-tahun selama perang dia segera memantapkan diri bersama dengan teman sezamannya Jean Paul Sartre dan kekasihnya Simone de Beavoir sebagai seorang pelopor generasi baru pengarang, filsuf, dan kritikus Prancis. Perhatian utama mereka pada saat itu adalah perjuangan untuk kebebasan, keadilan dan martabat manusia dalam tahun-tahun kekuasaan para tiran yang bercokol terus-menerus dan saling berselisih yang dapat diperangi semata-mata dalam keadaan ambiguitas total.

Camus mengungkapkan kreativitasnya melalui dua genre sastra utama yaitu prosa dan lakon drama, dan juga melalui esai-esai filsafat dan jurnalisme. Reputasi Camus melejit dengan cepat, sementara ia masih begitu muda , dalam masa lima tahun setelah Perang Dunia II. Empat drama orisinal dan dua esai besar filsafatnya membawa dia ke dalam limpahan material dan ketenaran. La Chute adalah karya Camus yang terbaik. Di situlah tergambarkan kepribadiannya yang terdalam, paling tragis, dan sekaligus paling komikal.

Terserah Apa Kata Desember #1

Kali ini aku benar-benar merasakan "beda"
Saat menjemput dan melepas bayangnya
Ini sebuah dosa ataukah anugerah
Karena aku berdiri diantara pijakan yanng berbeda

Seperti yang pernah terjadi padaku dulu,
Rasa itu mengalir deras melewati jendela makroskopis
Hingga kering seluruh imaji akan bayang kehidupan lain

Sebenarnya,
Aku bosan akan jejak ini
Hingga sempat aku memaksa semesta untuk berikrar pada kesunyian fana
Tentang aku, dia, dirinya, bahkan engkau.

Aku Hanya Ingin Manja dengan Suasana, Kok


Hari ini adalah hari yang paling menakutkan. Menangis pun hanya sampai di tenggorokan. Kaki seperti hanya berfungsi satu. Kedua tangan pun hanya bisa menengadah minta ampun. Jika biasanya rasa sakit hanya sampai permukaan kulit. Ini lain, tembus ke dalam kulit melewati tulang dan serba-serbi syaraf lainnya. Mungkin hari ini mukaku tampak seperti timbunan karung beras di gudang, berton-ton beratnya sampai untuk tersenyum pun rasanya malas sekali. Sekilas aku ingat bapak ibu, coba mereka ada disampingku. Menemaniku, merangkulku, bahkan menciumiku walaupun ibarat sekujur tubuhku sudah dibaluti amis darah. Tapi ya sudahlah, apa sih yang musti disesali. Hidup memang kadang begini, sebentar-sebentar manis, sebentar-sebentar pahit. Yakin sajalah, akan ada kejutan indah setelah ini.

Mungkin karena kemarin siang aku membual muak dengan persoalan cinta. Jadinya hari ini akhirnya pun aku di sodori bualan yang jauh lebih memuakan dari persoalan cinta. Betapa tidak? Sakitnya melebihi kisah Romeo dan Juliet. Bahkan kalau jatuh cinta melayangnya hanya sampai langit ke tujuh. Ini jauh lebih jauh dari langit ke tujuh. Melayang-layang diantara pintu kehidupan dan kematian sungguh sangat tidak lucu, sama sekali tidak menyenangkan. Meski ibarat kau optimis manis dengan pintu kehidupan, tapi sungguh tidak ada manusia di dunia ini yang suka perasaannya di gantung, jujur saja.. kau diperintah untuk melayang-layang diantara pintu kehidupan dan pintu kematian kan sama saja dengan kala perasaanmu digantung oleh kekasihmu. Pikirkan saja, apakah sama sakitnya? Anak kecil pun tahu, tentu tidak.

Kau tau, hari ini otakku dibayangi oleh jarum suntik dan kata-kata mengejutkan yang membuatku merasa ditusuk-tusuk otak kanan-kirinya? Diperiksa, melihat reaksi dokter, melaksanakan perintah dokter dan menunggu hasil pemeriksaan membuatku mabuk. Terpuruk dan kalang kabut. Berkata kuat atau tidak, tentu tidak. Tapi sekali lagi, menangis pun hanya sampai di tenggorokan. Kembali aku bernostalgia tentang masa sehat yang terasa amat hebat yang pernah ada di catatan hidupku kemarin. Kemarin. Entah kemarin yang mana yang aku maksud. Yang jelas kemarin. Kemarin sebelum aku merasakan sakit. Iya.. mungkin kemarin itu yang aku maksud. Sejak aku mulai merasakan salah satu kabel di jaringan tubuhku putus, jujur.. aku merasa sudah seperempat hilang dari dunia gila ini. Walaupun sempat suka dengan perasaan ini, tapi seperti biasa. Boleh kan orang menghilang lalu merindu? Tidak ada yang melarang kan? Hujan saja bebas mengalir kapan pun dan menghilang kapan pun. Tidak ada bedanya kan dengan aku? Aku juga berhak untuk bertindak seperti itu. Bahkan pikirku, justru aku lebih berhak malah. Maaf aku menggerutu tidak jelas dan tidak berarah, aku hanya ingin manja dengan suasana kok. Sekali lagi, boleh kan?

Lihatlah, hujan sedang mengguyur kota hari ini dan hanya mengguyur kota. Ia tidak mengguyur perasaan getir yang membalut sekujur tubuhku. Di kursi sudut ruang operasi, aku menikmati hujan yang bermain di sepanjang sisi kaca jendela. Badanku sakit. Terasa bengkak di salah satu bagian. Sekali lagi hanya sampai tenggorokan, aku tidak bisa mengekspresikan air mata melewati mata. Hanya sampai tenggorokan. Walaupun hanya sampai di tenggorokan, aku harap kau datang dan tidak membiarkanku kesakitan terus-terusan memaksa air mata untuk jangan lewat melewati tenggorokan, aku harap kau bisa membujuknya untuk melewati jalan yang benar. Katakan padanya, mata adalah tempat baginya. Tempat dimana ia akan merasa aman ketika membeku dan mencair. Kekasihku, aku hanya ingin manja dengan suasana kok. Boleh kan?

Ah! aku geram sekali denganmu!!

Bagiku kau terlalu menusuk mata ketika kemarau,

Kau berbeda sekali dengan biasanya akhir-akhir ini,

Apa kau sudah kekurangan air?

Apa kau merasa kalau aku sudah tak bisa menghidupimu lagi?

Seluruh tubuhmu sudah merasakan kering yang sangat sinting kah?

Sahabat, aku mencoba untuk menghidupimu setiap hari.

Aku selalu berusaha untuk tetap menjadi teman bersiulmu kala angin sore merontokkan daunmu satu per satu.

Coba ingat, kala semi datang.

Kau begitu hijau.

Centil sekali kau terlihat berlenggak lenggok menikmati angin.

Dan aku suka. kau dengar sahabat, aku suka.

Kau hampir setiap hari mengajakku bersiul.

Sampai kau pun menertawaiku geli karena melihat bibirku menebal gara-gara menemanimu bersiul setiap hari.

Ingat, sahabat?

Ah! aku benci ternyata kau tak ingat!

Aku geram sekali denganmu.

Ingin sekali tega denganmu dan membiarkanmu mati kekeringan.

Aku benci kepadamu kalau kau terus-terusan tidak ingat begini.

Tapi sudahlah, aku tahu kau memang seperti itu.

Suka sekali meledekku, iya kan?

Sampai pada akhirnya,

Aku kelelahan membuatmu ingat.

Aku mencari pelabuhan bersandar sejenak, ya.. melepas penat pikirku.

Sahabat bagiku bukanlah dedaunan hijau yang terlihat segar ketika di sentuh air.

Karena ketika kemarau ku datangkan, mereka berubah menguning bahkan cokelat hingga akhirnya berguguran.

Aku bisa saja menjadi semi dan kemarau kapan pun aku mau,

Hanya saja yang aku tanyakan "apakah kamu mau tetap menghijau ketika semi atau kemarau?"..

Datanglah kemari ketika semi dan menjauhlah sejauh-jauhnya ketika kemarau, itu akan membuatmu am

Hingga kalimat itu terlontar,

Ternyata kau masih tidak mau ingat juga.

Ah! aku geram sekali denganmu!!

GALAU= WHAT THE (TANPA) FUCK

Mimpi apa saya nih kalo tiba2 ada pangeran sayang ( lagi ) sama saya terus indah di awal dan di akhirnya, ga kayak beberapa dekade ini,, surem terus dah relationship saya, nyampe pengen banget tuh kata relationship diganti relationshit sama saya.. hahaha maklumin aja namanya juga lagi patah, ya di patah2in deh semuanya.. nyampe ngumpat pun kagak pernah abis2nya.. nyampe duit pun ludes buat ngobatin ni galau. Masih mending kalo pusing tinggal beli obat di apotek or warung terdekat bisa sembuh. Nah kalo galau? dari nongkrong, karaokean, shopping, nyalon, nyampe makan gila-gilaan cuma buat sekedar ngalihin si galau aja musti ngluarin duit sampe berbusa-busa haha masih mending kalo sembuh, nah kalo belum.. siap-siap deh nguras Atm nyampe bersih..
Galau sepengetahuan saya dan sepengalaman saya rasanya sumpah ga enak, ga asik banget. Bayangin aja dari bangun pagi nyampe mau merem lagi nih harus ngrasain suatu perasaan yang sama. Kosong, takut, kecewa, gelisah, dan sejenisnya deh. Udah gitu pikiran negative kagak pernah mau pergi-pergi lagi. Udah deh, cara satu-satunya mewek.
Oke, saya galau. Yes, I’m! relationship di bayangan saya nih indah. Indah dari mananya mah ga tau. Hehe yang penting indah dah kayak di film-film, romantis kayak cerita Romeo And Juliet, abadi kayak Adam dan Hawa ( ciee ). Wah pasti keren dan manis banget tuh kalo pacaran bisa lama, perasaan saling nyaman dan tenang. Ada masalah di selesein bareng dan baik-baik. Tanpa harus otot muncrat di sana-sini. Tanpa harus salah satu diantaranya ngomong; ngumpat-ngumpat di belakang dan pendem perasaan yang sebenarnya di hati. Komunikatif dan terbuka secara psikologis, kagak ada pemaksaan. Wah saya suka dan tentunya pasti pemirsa juga suka kan? ( hehe ). Bagi saya nih, kalo lagi galau enaknya di kamar sendirian or jalan ke suatu acara/ tempat sendirian. Kagak enak deh misal lagi galau kita main capcus sama temen-temen kayak biasanya. Biasanya dalam situasi galau yang mencekam, orang-orang disekitar kita ngomong kayak gini “ ih lebay deh, ga segitunya kali. Masalah cinta aja di bikin repot. Lebay, gitu aja mukanya murung udah kayak aspal rusak tuh, manyun tiada akhir. “ atau ga kayak gini “ Itu orang bego. Cowok kayak gitu aja di tangisin. Udah tinggalin aja, cari aja yang lain. Cowok mah ga cuma satu “. Wah manusia tuh emang kadang-kadang merasa sopan tapi aslinya ga sopan. Hobi banget dah ngata-ngatain plus nyalah-nyalahin orang. Orang curhat a.k.a berbagi beban gitu malah disalah-salahin. Kalo boleh acungin tangan nih, saya mau ngomong. “ emang situ tau perasaan saya? Situ tau banget apa sama apa yang saya rasain? Kalo iya, ya udah deh saya minta tolong. Jadi diri saya dong, saya pengen jadi yang lain aja deh. Biar rejeki galaunya ga kebanyakan. “ haha ketus mampus ga tuh kata-kata tadi. Bukannya mau nyumpahin, tapi awas aja deh kalo mereka yang notabene hobi banget kayak gitu galau. Kalo disuruh icip-icip perasaannya.. ogah deh, ogah. Saya aja udah ga karuan rasanya nih. Asin, pahit, manis, pedes udah ga jelas mana batasnya.
Gini deh, di tulisan kali ini saya ga lagi nyalah-nyalahin orang atau ngebener-benerin orang. Saya cuma pengen bersuara kalo orang galau nih butuh dorongan, butuh kasih sayang. Ga butuh namanya suatu tekanan baik yang berupa penyalahan, celaaan dan dalil yang ga pernah situ alamin. Kata-kata yang benar adalah kata-kata yang berasal dari pengalaman sendiri bukan dari mimpi waktu situ bangun tidur. Oh iya, berkaca dulu sebelum berasumsi. Lihat beberapa sudut, ketika kamu berkata seperti itu kepada mereka tinjau dulu kebenaranya, perasaannya, dan pribadinya. Thankyou  *orangkartun

SOSOK LELAKIKU MUSIM LALU

SOSOK LELAKIKU MUSIM LALU

DIA MELETAKAN KUASNYA SEJENAK, LALU MENATAPKU

DIA DIAM, LALU MENGGORESKAN KEMBALI KUASNYA

AKU MELIHAT SEMBURAT KECEWA DI MATANYA

AKU MENDEKAT, DIA TERSENYUM

AKU MERASA SENYUMNYA TERLALU INDAH

TERLALU JAUH UNTUK AKU BALAS

BOLA MATAKU MENGIKUTI, IKUT MENARI DENGAN TANGANNYA YANG GAGAH

DIA MELETAKAN KUASNYA,

BERDIRI DAN MENGAJAKKU UNTUK MELIHAT PEMANDANGAN DI LUAR JENDELA

IA BERKATA,

“ JIKA SUATU SAAT AKU PERGI, ITU LAH SAATNYA KAU HARUS MELIHAT KE LUAR JENDELA. KAU TAK BISA SETIAP HARI MELIHATKU MELUKIS DAN MENGIKUTIKU MENARI DENGAN KUASKU. AKU PUNYA WAKTU TERBATAS DAN TEMPAT YANG JAUH UNTUK BISA SAMPAI KE RUMAHMU DENGAN CEPAT. AKU JUGA PUNYA KEBIASAAN YANG TERLALU BERBEDA DENGANMU. KITA BERBEDA DAN AKU TIDAK BAIK “

Orang Kartun, 27 Agustus 2011

Bangkit Dari Kesedihan, Why Not?!

Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Penyebabnya macam-macam, bisa karena sedang patah hati, sakit secara fisik, bokek alias tidak punya uang, dan semacamnya. Pada saat-saat seperti itu, bisa jadi orang mengalami frustrasi, depresi, dan ekstremnya, mencoba bunuh diri.
Mudah-mudahan Anda tidak usah seperti itu. Coba tip di bawah ini untuk menemukan kembali semangat diri.
1. Ayunkan tubuh dan bernyanyi
Pasang musik favorit, terutama yang berirama disko atau dance. Sambil bergoyang, Anda juga bisa ikut menyanyi.
2. Tersenyum
Tersenyum bisa ‘mengakali’ otak. Maksudnya, karena otot-otot Anda memaksakan senyum, otak akan berpikir bahwa Anda sedang senang.
3. Habiskan waktu dengan orang-orang tercinta
Ada orang yang senang kongkow dengan teman-temannya, ada juga yang senang bermain dengan anak-anak kecil. Terserah yang mana pilihan Anda, yang jelas pilihan kedua amat menyenangkan. Bayangkan Anda mencubit pipi seorang bocah, menyaksikan keriangannya menjilat es krim, bermain di kolam renang, atau melakukan apa pun. Percayalah, keriangan anak-anak akan menular pada Anda.
4. Hadiahi diri Anda sendiri
Kalau ada pekerjaan yang tidak Anda sukai, jangan ditunda. Segera kerjakan, supaya setelah itu usai, Anda bisa memberi kado bagi diri Anda sendiri. Hadiahnya tak usah mahal-mahal amat, bisa berupa memanjakan diri di spa atau salon, berendam di kamar mandi, membaca majalah atau buku, atau tak melakukan apa pun sambil mengunyah dua keping cokelat.
5. Bersihkan sekeliling Anda
Keadaan yang kacau balau memang bikin dada sesak. Karena itu, bebenahlah. Biarkan segala sesuatu berada di tempat yang seharusnya. Seni kuno Feng Shui menyebutkan bahwa mengenyahkan kekacaubalauan di suatu tempat berarti akan mengusir energi negatif dari sana. Cobalah.
6. Lakukan tindakan
Bila ada sesuatu yang membuat Anda cemas, entah itu kesehatan, pekerjaan, atau kehidupan rumah tangga, lakukan sesuatu. Jangan biarkan suatu masalah menjadi berlarut-larut, menggerogoti kebahagiaan Anda, dan ‘menikam’ apa yang seharusnya Anda peroleh.
7. Berpikir positif
Para konsultan psikologis tak akan pernah bosan menghadiahi kedua kata ini. Sebab, ujung-ujungnya, segala masalah bisa terasa lebih ringan kalau Anda selalu berusaha berpikir positif.
8. Jadi orang yang kreatif
Kalau cuma duduk melamun sambil mengeluh bahwa dunia ini tidak adil, sudah jelas dunia ini memang ‘terasa’ tidak adil. Anda tidak punya kesibukan, sih. Cari sesuatu yang menyibukkan diri, seperti mengerjakan pekerjaan tangan, memasak, berkebun, meredekorasi rumah, dan sebagainya.
9. Menulis
Banyak ahli setuju bahwa menulis dapat menghilangkan stres. Cobalah dengan menuangkan apa yang Anda alami ke dalam selembar kertas. Anda akan kaget melihat hasilnya.
10. Berolahraga
Manfaat olahraga pasti sudah Anda ketahui. Tapi, melakukannya ketika Anda sedang sedih, bisa jadi membawa kegunaan lain. Di antaranya adalah, membuat Anda lupa masalah, dan membawa semangat baru.Cool

Agenda Kering

Pikirkan satu pohon kering yang sangat kering di musim kemarau. Ia begitu kering. Warna coklat yang membalutnya sudah tak terlihat manis. Daun hijaunya hilang, terbang atau jatuh entah kemana. Di padang yang dulu hijau, ia sendiri.. tak ada teman. Satu per satu batangnya pun patah diterpa angin yang marah, terlalu girang bahkan terlalu sedih mungkin. Detik yang ia lewati awalnya biasa saja. Lalu menit yang ia lewati juga masih sedikit biasa dan kemudian jam ia lewati, luar biasa. Akhirnya hari, minggu, bulan, tahun, ia nikmati dengan sungguh tidak biasa. Ia inginkan setetes penyegar, walau setetes. Ia benar-benar hanya menginginkan itu. Sakit dan ngilu ia rasakan, diantara pilihan untuk tetap hidup atau mati saja. Setelah dipikir –pikir, memilih mati terasa cengeng dan menyedihkan sekali. Terasa kecut dan pengecut. Andai bisa memilih hidup. Tapi bagaimana bisa. Nafasnya saja tidak genap satu. Darahnya saja tak kental. Apalagi liurnya, keluar pun tidak.

Percaya ga percaya, setiap orang di muka bumi ini pasti pernah ngrasain yang namanya masalah. Cuma tergantung kitanya yang ngadepin masalah itu kayak gimana. Ada orang yang diem, tegas, keras, berlebihan, masa bodoh, dan bla bla. Semuanya tergantung sama kepribadian masing-masing orang.

Guys, gua ngibaratin Pohon = Kita. Musim kemarau = Masalah. Daun hijaunya yang hilang, terbang atau jatuh entah kemana = Diri kita yang terombang ambing, tertekan, stress karena masalah. Penyegar = Solusi masalah.

Oke, secara gamblangnya aja. Ketika kita lagi dapet masalah nih, pasti kita akan ngrasa sendiri, ga ada orang yang bisa dan mau ngertiin kita. Kita merasa tertekan ditekan, kita hilang arah, ga tahu harus nyelesein masalahnya dari mana. Sampai pada akhirnya ada orang yang diem seakan acuh tak acuh dan beranggapan masalah akan selesai dan akan indah pada waktunya ( padahal ga tahu mau indahnya kapan ), ada orang yang keras yang langsung plak plak plak dan berfikiran kalo masalah akan cepet selesai kalo lewat kekerasan tanpa berfikir kerugian-kerugian yang sebenarnya banyak didapat dari sikapnya itu yang justru akan memperkeruh masalah. Selain dari kedua tipe itu, ada orang yang berlebihan dalam memandang suatu permasalahan. Dikit-dikit nangis, dikit-dikit ngadu cerita ke sana-sini. Aww.. biasanya cewek nih yang kayak gini hehe. Tanpa disadari, semua itu justru akan memperparah keadaan. Kita ga perlu lah sok sokan berlagak cuek, sok jagoan main kekerasan, dan lebay dalam memandang masalah. Ketika masalah menerpa, yakin aja kalo semaunya akan baik-baik aja. Masalah yang sedang lu hadepin itu adalah sesuatu yang akan memperkuat diri lu nantinya, dan yang paling musti diinget, kita itu harus nyari ” penyegar ” alias SOLUSI biar kita ga jadi ” pohon kering ” alias KORBAN MASALAH. Bukan dengan cara lu ng-drink, ngrokok ( bagi yang cewek ), ng-drugs, jual diri bahkan bunuh diri. Ahh.. ga banget lu kalo kayak gitu, mending kaga usah lahir aja deh. Baru dikasih masalah secuil aja udah nyerah, haha jangan gitu dong! :D. Inget kata enyak, babeh, dan ustadz-ustadz yang pernah lu liat, kalo Tuhan itu ga lebay kaya lu ( hehe.. ) Dia ga akan kasih lu cobaan yang lebay lah, percaya aja.

Pesen gua sih, kalo lu lagi dapet masalah. Lu mending koreksi diri sendiri dulu deh. Dilihat tuh, apa yang salah sama diri lu kok bisa muncul permasalahan kayak gitu. Kalo emang lu ga ngrasa ada yang salah, baru lu tengok keluar mungkin mereka yang salah. Setelah itu, selesein masalahnya step by step. Jangan mentang-mentang pengen cepet selesai, masalah lu selesein rombongan. Unsur-unsur dari setiap masalah kan beda-beda hehe.. jangan terlalu menuntut orang lain harus seperti yang ada dipikiran lu. Karena belum tentu orang pasti mau seperti apa yang ada dipikiran lu, kalo ga percaya berkaca aja sama diri lu. Mau ga diatur sesuai keinginan orang lain, diminta ini itu, diharusin kayak gini kayak gitu. No. No. No.. yang terpenting, jangan lupain lu punya siapa. Tuhan tuh ada, dan serahin semuanya ke Dia. Dia bakal kasih lu yang terbaik. Dia ga memandang lu itu ganteng/ cantik apa ga, yang Dia lihat tuh lu tulus ga sama Dia. hehe

Jadiin masalah yang bikin lu ngumpat itu, batu pijakan lu jadi dewasa dan orang yang lebih kuat dari kemarin. Lu itu tercipta dari kekuatan hebat. So otomatis lu pasti hebat juga. Lu unik, dan ga ada yang bisa seperti lu. Ga ada yang bisa ngrasain apa yang terjadi sama diri lu kecuali diri lu sendiri. Orang lain cuma bisa denger, lihat, dan tau aja.. tapi buat ngrasain itu mustahil. Oke… :)

Daya Tarik=Cinta

Cinta tidak akan memudar,
jika ketertarikan tidak memudar.

Sehingga,
orang yang tidak memelihara
daya tarik pribadinya,
akan kehilangan cinta
secepat hilangnya daya tarik.

Jatuh cinta itu mudah,
sangat mudah sekali,
jika dibandingkan dengan keharusan
untuk memelihara daya tarik
untuk tetap pantas dicintai.

Tapi,
orang yang sering menuntut dicintai,
sering lupa untuk tetap menjadi
pribadi yang menarik.


Mario Teguh

Tanda Kurung (Aku)

Ketika semuanya tidak akan pernah hilang, semua yang bagiku berharga, semua yang bagiku tak ada kata terlambat. Semuanya hilang, sudah tak berharga dan terlambat. Aku punya segudang huruf baik dan angka suci serta deret demi deret unsur hitung dan baca yang baik nan suci. Ternyata berjalan dengan dada membusung melelahkan dan bikin penyakit, dan duduk dengan kaki kanan di atas memegalkan. Sombong dengan kotoran itu sakit, penyakit dan menyakitkan. Bak lelaki yang terkurung wanita, wanita yang terkurung lelaki, dikurung, mengurung, dan segala macam kurung.
Pagi yang cerah dan merah. Ah, kenapa harus ada kata cinta yang terlontar. Mulut baik yang menjadi busuk atau mulut busuk yang menjadi baik. Entahlah, semuanya melelahkan. Setiap pagi aku terbangun dengan nadi tercengang. Hey, manusia langka! Kenapa hatimu Bangka? Katakan padaku, aku harus kemana dan bagaimana? Aku harus berguru kepada siapa agar kau mau berubah dari keterbangkaanmu itu? Berguru pada bapak ibu dosen di kampus? Ah bosan. Pada bapak ibu di rumah? Aku malu. Pada orang-orang sekitar? Sama saja dengan mengangkat pedang, mereka akan mentertawakanku. Aku harus kemana dan bagaimana? Aku takut kendil yang ku bawa ini pecah, nanti kalau pecah aku tak punya cinta lagi untuk mu. Pecah sama saja menumpahkan air di kendil dan membiarkan air itu mengalir kemana saja. Pecah sama saja menumpahkan cinta dan membiarkan cinta itu terbagi. Satu hal, aku tak ingin terbagi dan membagi. Aku pernah terluka karena tanda bagi. Jadi jelas tak mungkin aku memberikan dan membiarkanmu cinta dengan tanda bagi. Walau aku tahu kau suka sekali dengan tanda bagi itu.
Udara di pantai memang enak dan unik. Pasirnya pun tak kunjung marah walaupun aku injak berjam-jam. Lelah berjalan, aku memutuskan untuk duduk di pinggiran pantai. Bosan dengan rambut terikat, ku lepas karet yang mengikat rambutku. Ku hembuskan nafas kencang dan kembali berfikir. Kemana dan bagaimana lagi. Cinta harus dimengerti. Pengertian seperti apa yang diminta? Berbicara cinta memang tidak akan pernah habis, di setiap detik manusia pasti berbicara cinta. Entah cinta yang seperti apa, tidak tahu. Yang aku tahu, aku terjebak dalam pengertian cinta yang salah. Sedang aku cari kapan aku mulai salah memulai mengartikan pengertian cinta itu. Yang aku ingat, aku terkurung suatu keadaan yang benar amat sulit untuk aku robohkan dindingnya. Bagaimana tidak, aku dituntut untuk menjadi orang lain. Demi menyelamatkan dirinya agar tak cepat mati, semua yang dia katakan harus aku turuti. Jujur, aku takut dia meninggalkanku cepat. Jadi suka tidak suka, aku harus suka. Walau aku tahu, semua itu perlahan meredupkan cahaya yang menyelimutiku. Aku telah membuat marah Tuhan karena ketidakberdayaanku berani meredupkan cahaya tulus yang telah Tuhan ciptakan untukku seorang. Di tengah pikiranku yang kalut, Tuhan menamparku dengan menyuruh ombak untuk membanting sekujur tubuhku, aku menangis. Aku menangis semakin kencang, semakin kencang ketika aku tahu Tuhan benar-benar marah padaku. Kembali aku ingat huruf-huruf suci yang aku baca setiap hari bersama ayah tercinta sewaktu kecil. Ibu mendandaniku dengan kerudung merah jambu dan mencium keningku sembari berdoa jadilah wanita yang baik bagi Tuhan, jangan buat marah Tuhan, dan jangan sakiti Tuhan. Dengan wajah bercahaya, aku pun berkata iya dan menggapai tangan ayah. Ayah menggendongku sepanjang jalan dan bercerita betapa hebatnya Tuhan. Ayah mengatakan padaku Tuhan itu Superhero yang tak terkalahkan. Sejak saat itu, setiap mengaji aku selalu menulis di buku tulisku I Love You, My Superhero. Aku kira, aku akan selamanya seperti itu. Tidak membuat sakit dan marah Tuhan. Tapi semenjak aku mengartikan cinta dengan salah, aku mengecewakanNya. Maaf Tuhan.
Pengunjung pantai mulai berdatangan dan membuatku memutuskan untuk berdiri pulang. Ku lihat para pedagang pun mulai membuka lapaknya, raut muka yang siap memborong rezeki. Peluit tukang parkir mulai terdengar bising di telinga. Suasana sudah jauh berbeda dengan suasana pantai pagi buta tadi. Heningnya sudah berubah. Ombaknya pun sudah tak semarah sewaktu aku duduk disana. Pelan ku lenggangkan kakiku melangkah, muka yang ku lipat tadi perlahan ku buka lipatannya dan segera aku tersenyum seraya menyambut pagi pukul 09.00. Aku berangkat terlalu pagi ternyata, sampai tak sadar sepeda yang aku naiki tadi ternyata bocor. Mau tak mau aku harus menuntun sepeda lama sampai aku menemukan tukang tambal ban. Jalanan yang naik turun membuat nafasku mulai tak baik nadanya. Tapi tak sia-sia, di dekat toko kelontong yang belum buka akhirnya aku menemukan tukang tambal ban. Aku bersandar di tembok bengkel sambil menata kembali nada nafas yang tak baik tadi. Tak ada minuman, haus. Tak lama menunggu, aku sudah bisa mengendarai sepeda yang sempat bocor tadi. Ku tengok jam tangan yang baru aku beli kemarin di butik terkenal dekat kampusku, waktu menunjukan pukul 09.55. Ku buru sepeda yang aku naiki. Kembali aku membelokan pikiranku ke kegalauan yang akhir-akhir ini sering menyerangku ganas. Aku malas berangkat kuliah jam 11.00 nanti, rasanya sudah tak ada gairah lagi untuk menjadi seorang ilmuwan. Penggaris dan pensil sudah bukan lagi sahabat terbaikku, mereka lebih pantas monster-monster di komik atau film kartun di televisi-televisi sekarang. Sahabat terbaikku sekarang adalah tanda seru atau sepotong kue yang sudah kadaluarsa. Hidup sekarang lebih seperti lumpur hidup yang menghayutkan dan mematikan. Sulit atau malas untuk dilewati. Banyak orang yang buta tuli rasa dan moral, penyebar ketololan dan kebohongan akidah yang siap menghina orang menjadi sosok hina paling hina di mata pencipta hebatnya. Orang sudah tak bisa lagi menghindar meski berbagai macam bentuk pengaman diciptakan dan dikenakan. Hidup sudah hina dan termakan usia, sia-sia. Membuat marah Tuhan seperti sudah biasa, biasa.
Lama berfikir melayang berorasi protes, aku memasukan sepeda di garasi rumah dan menuju kamar, membanting tas dan mandi. Segar sekali rasanya bersatu dengan air, seperti lahir kembali dan bebas dari kotoran-kotoran hidup. Aroma bengkoang pun mengiringi kebebasan itu layak sang putri raja. Handuk merah jambu membalut kelikuan tubuhku bagai bayi. Keluar kamar mandi, aku menuju lemari dan mengambil skinny jeans hitam dan t-shirt putih polos. Hidup di negeri orang memang susah, jauh dari orang tua yang entah rukun atau tidak dan hidup di satu rumah sendirian. Merajut dan merekam kehidupan sehari-hari bersama problematikanya seorang diri. Proses pendewasaan yang tidak terlalu nikmat. Pukul 10.30 berlalu, satu telor ceplok dan segelas susu putih sudah cukup untuk wanita 19 tahun sepertiku. Di umurku 19 tahun ini, aku merasa lebih pantas sebagai seorang kritikus hidup. Tukang orasi dan penggugat ketidakbenaran yang hidup dan berkembang di lingkungan sekitarku. Kuliah di arsitektur tidak membuatku menjadi pengukur ukuran hidup yang pas malah justru lebih membuatku semakin ganas berbicara bak tokoh negara berdasi. Alasannya mudah, karena aku sudah benci hidup yang sekarang. Sudah tidak aku temukan warna indah seonggok bangunan seperti tempo dulu ketika aku masih benar mengartikan cinta lawan jenis. Daun segar yang sekarang menguning layu entah terbang melayang kemana, tiada tujuan pasti dan indah. Lelakiku telah menimbun daun itu dan membawaku tanpa tujuan yang pasti dan sangat membuatku menjadi tak indah lagi. Lelakiku mengurungku di dalam kurungan ayam yang bau. Katanya sebagai wujud tanda cinta, ah tai kucing. Indah sekali ia bersenandung atas nama cinta. Lelakiku sakit jiwa, tak ingin ditinggalkan tapi menyakiti. Tak ingin tanda bagi tapi memberiku tanda seru. Benar aku mencintainya, tapi dimana cintanya aku tak tahu. Di hatiku atau ragaku. Aku benar-benar tak tahu. Membuat kepalaku botak dan semakin hari semakin membuat pembuluh darah di otakku tersumbat. Bingung harus kemana dan bagaimana dan mengadu kepada siapa? Kepada satu telor ceplok dan segelas air susu? Gila.
Ku habiskan sarapan kesepian segera, ku ambil ransel coklat mudaku dan berjalan malas ke luar rumah menuju kampus. Sepeda kesayangan ku ontel menuju kampus yang penuh sesak ilmu dengan santai. Jarak rumah yang cukup dekat dengan kampus membuatku untuk memilih sepeda sebagai kendaraan indah sehari-hari. Sehabis pengumuman ujian masuk universitas, orang tuaku memilihkan rumah kontrakan di daerah yang kurang lebih dekat dengan kampusku. Entah apa tujuan orang tuaku memilih aku untuk mengontrak rumah kecil ketimbang kost. Kata mereka aku calon arsitek, jadi harus mandiri. Apa hubungan dan maksudnya? Belum tahu, aku penurut. Tapi meskipun mereka sudah tak bersama lagi, mereka masih menjadi orang yang paling mengerti aku, mereka faham aku bukanlah orang yang suka dengan keramaian dikala belajar. Jika ada masalah aku pun memilih sendiri dan bergelut dengan alam ketimbang harus meronta-ronta, memeras air mata dengan tisu 5 bungkus bersama para sahabat. Sesampainya di kampus, aku tak banyak bicara. Jika tidak penting, aku lebih memilih diam sebagai pembicaraan. Lebih tepatnya aku pendiam, tak suka banyak bicara. Dosen masuk, berbicara panjang lebar dan memberikan ritual yang tak bisa dihilangkan yaitu tugas perkuliahan yang semakin membuat macet otak. Mati kehabisan nafas karena tugas kuliah adalah penyakit yang paling wajar seorang mahasiswa. Tapi mati karena kehabisan cinta dan menjadi tidak bermoral adalah penyakit tak wajar seorang mahasiswa. Cinta fluktuatif sepasang mahasiswa memang unik dan menegangkan hidup. Mencekam dan bikin geram. Sakit.
Cinta yang tidak bisa ditebak dan berubah-ubah, cinta karena hati atau karena raga yang gemulai. Kembali tanda tanya menguak di permukaan. Sepulang kuliah, aku memutuskan untuk tidur. Udara luar yang panas membuat kulitku terbakar. Membuatku teringat akan neraka. Ingat dosa. Ingat mati. Ingat Tuhan. Teringat cerita orang kotor yang lancang minta surga. Ku buka pintu rumah dan menguncinya kembali. Hari ini aku malas untuk mengangkat telepon atau sekedar membalas sms. Berkali-kali teman, keluarga, bahkan lelakiku menghubungi nomorku tak ada satu pun yang aku angkat atau balas. Hari ini aku tak minat diganggu. Ku matikan handphone dan meletakannya di meja rias kamar. Ku baringkan tubuhku santai dan mulai memejamkan mata berharap bertemu cahaya terang di alam mimpi. Tak lama aku terlelap, jauh meninggalkan alam sadar. Saat yang benar-benar aku tunggu aku bertemu Pelangi disana. Aku bercakap santai dan tanpa sadar aku mulai mengadu tentang kegalauanku kepada Pelangi itu.
“Kau ingin bertemu denganku, Bocah Kecil?” kata Pelangi
“Iya, tapi kenapa kau memanggilku bocah kecil? Aku sudah dewasa. Umurku 19 tahun, aku seorang mahasiswa. Aku bukan bocah kecil lagi! Panggil aku wanita dewasa kalau kau mau.”
“Baiklah wanita dewasa, ada apa kau mencariku?”
“Kenapa kau tak kunjung datang dalam hidupku? Dan kau membiarkan badai temanmu itu terus bertamu di hidupku. Aku bosan melayani tamu seperti dia. Kapan kau mau datang?”
“Kau ingin bertemu denganku hanya ingin menanyakan hal itu?”
“Iya. Aku menunggu Pelangi. Kenapa kau tak ada setelah badai datang? Harusnya kau ada setelah itu. Tapi kau tak ada, kemana?”
“Badai itu belum ingin berlalu, sayang?”
“Kenapa?”
“Ingat dengan Superheromu? Ingat pada deret angka, hitung, dan tanda baca yang baik nan suci itu?”
“Kau mengejekku, kau kira meski aku dalam keadaan kotor aku sudah tak ingat Superheroku itu?”
“Tidak. Aku percaya kau tak pernah melupakanNya”
“Terus apa maksudmu bertanya seperti itu?”
“Superheromu belum mengizinkan aku datang kepadamu. Sabarlah menunggu, aku akan datang setelah badai itu berlalu. Kalau kau percaya pada Superheromu, kau akan tahu betapa Ia sangat mencintai wanita dewasa sepertimu?”
“Aku percaya kepadaNya, dan aku akan tetap berusaha mempercayaiNya walau terkadang aku tak faham akan maksudNya. Kau tahu aku tertekan oleh berbagai masalah, aku yang selalu memilih diam sebagai pembicaraan di dunia. Badai yang mengamuk itu tak kunjung reda, kau tahu dan melihatnya. Tapi kenapa kau diam dan tidak menolongku. Setidaknya hanya sekedar mewarnai hidupku sejenak dengan warnamu itu, keberatankah?” berontakku
Aku menangis dan mengerang kesakitan. Aku ingat keluargaku yang tercerai berai, aku ingat sahabat yang mengaku sahabat yang meninggalkanku hanya karena manisnya uang, aku ingat ayah yang menggendongku waktu kecil, aku ingat ibu yang mencium keningku dan memohon aku untuk menjadi arsitek hebat, aku ingat orang-orang yang paling aku sayang yang lebih dulu meninggalkanku tanpa sempat aku melihatnya untuk terakhir kalinya, aku ingat lelakiku yang memberiku cinta tapi cinta seperti apa aku tak tahu. Pelangi meninggalkanku, pelan warna indahnya memudar. Aku terdiam. Dan tak lama badai datang. Lalu aku bangkit dan segera berlari sekencang-kencangnya. Aku terbangun dan kembali ke alam sadar.
“Mimpi indah yang memuakkan” umpatku
Aku bangkit dari tempat tidur dan duduk di kursi samping jendela kamar, menenangkan diri sembari menyisir rambut ikalku yang berantakan. Langit sore mendung, pertanda akan hujan. Ku tatap langit biru yang sekarang menghitam. Hujan deras mengguyur semua fikiran yang bergesekan di otakku tadi. Di tengah lamunanku, bel berbunyi. Setengah sempoyongan aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Lelakiku datang, sedikit bahagia namun biasa.
“Kamu kenapa, Sayang? Kamu sakit?”
Ku usir tangannya dari dahiku.
“Maaf aku muak denganmu.” gerutuku dalam hati.
Dia menatapku tajam seperti biasa matanya bagai singa yang siap menerkam mangsanya.
“Jangan tatap aku seperti itu.” kataku pelan
“Kamu kenapa, Sayang? Kenapa handphonemu mati? Aku jadi tak bisa menghubungimu, Sayang?”
Kata-katanya seperti kata-kata seorang bayi yang tak berdosa, yang masih bersih dan tidak pernah menyakiti. Tangannya mulai nakal memainkan tubuhku dan dengan kasar aku menamparnya. Semua di luar kendaliku, hari ini aku benar-benar muak dengan hidup. Segera aku masuk kamar dan duduk di kursi samping jendela tadi, kembali menenangkan diri.
“Kenapa kau menamparku? Ada apa denganmu? Kau seperti orang sakit jiwa!”
“Kau bisa pulang atau diam di situ. Dan jangan usik aku di sini, dengar?”
“Oke, aku akan diam disini sampai kau tenang.”
Ingin sekali mengambil pisau di dapur dan segera membunuhnya. Lelakiku yang penuh tanda bagi tak sadar telah melukai wanitanya setelah dengan indah memainkan tubuh wanitanya. Sungguh lelaki hina yang paling hina tapi aku cinta, ah muak. Aku tahu dia telah menduakanku. Tapi aku memilih diam, pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu. Tanya kenapa? Karena aku mencintainya dan percaya padanya. Aku tidak peduli dengan proses pembagian dan penyalahgunaan kepercayaan yang dia buat itu, yang terpenting dia tidak meninggalkanku. Itu saja.
“Kalau kau mencintaiku, pergilah.” kataku perlahan
Dia berjalan ke arahku dan memelukku erat. Ku lihat matanya memerah, tak tahu merah menangis atau merah karena begadang dengan wanita-wanitanya. Ini yang membuatku terkadang ragu akan penilaianku, cinta yang seperti apa yang aku minta dan aku salahkan. Ia cinta akan hati atau akan raga, aku benar-benar tak tahu. Aku benar-benar tak bisa merobohkan dinding itu. Ia membagiku tapi ia tak rela jika aku meninggalkannya, apa pun yang ia minta harus aku turuti. Terkadang ia seperti mencintaiku dengan cinta yang aku minta. Tapi kadang ia mencintaiku dengan cinta yang tak aku minta. Dia telah menyulap segumpal darahku dengan sebentuk wajahnya, yang tak bisa untuk rela aku tinggalkan dan biarkan ia sakit meskipun ia telah menyakitiku sakit.

Grafologi; Membaca Kepribadian dari Tulisan Tangan

Grafologi adalah seni membaca karakter tulisan tangan. Tulisan tangan mirip sidik jari-setiap orang memiliki ciri khusus, kalaupun ada dua orang memiliki tulisan tangan yang sama, jika anda perhatikan, pasti akan terlihat bedanya.

Tulisan tangan terbentuk dari rangsangan kecil dari otak sehingga sering sekali para ahli grafologis menyebut tulisan tangan adalah “tulisan otak.” Grafologi merupakan sebuah ilmu yang empirik, karena ilmu ini dibuktikan berdasarkan fenomena dalam satu populasi dan ada kuantifikasi hasil atau ada hasil dari uji statistik yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kegunaan grafologi bisa kita lihat sejak 6000 tahun yang lalu, di masa Cina kuno. Pengetahuan mereka berpindah ke orang Yunani dan Romawi, dan Kaisar Nero menggunakannya untuk menentukan orang yang bisa ia percaya.

Buku pertama yang muncul tentang tulisan tangan ditulis oleh orang Italia, Camillo Baldi pada tahun 1622. Namun, kata ‘grafologi’ sesungguhnya diungkapkan oleh Jean Michon, orang Perancis, pada abad ke-19. Kata tersebut datang dari bahasa Yunani ‘graphí’ yang berarti menulis, dan ‘ology’ yang berarti ilmu.

Michon membentuk Graphological Society (Lembaga Grafologi) di Paris, yang berkembang sampai masa Perang Dunia Kedua (1939-1945). Penulis Edgar Allan Poe juga mempelajari tulisan tangan dan mempublikasikan penemuannya, serta menyatakan kata ‘autograph’ untuk menjelaskan pendekatannya.

Grafologi dipelajari di Klinik Psikologi Harvard tahun 1930 oleh Gordon Allport, dan pada tahun 1955 Klara Roman dan George Staemphli mengembangkan faktor-faktor penting untuk menilai karakter dari tulisan tangan. Di banyak universitas Eropa, grafologi adalah bagian dari kurikulum untuk jurusan grafologi.

Sekarang ini banyak area dalam hidup di mana grafologi dianggap sangat berguna. Menilai tulisan tangan sangatlah membantu dalam banyak bidang saat ini. Contohnya dalam bidang pendidikan, kita dapat mengetahui bakat dan minat seseorang, pelaku kekerasan disekolah, dan dapat pula digunakan untuk konseling atau BK.

Grafologi juga digunakan di bidang kriminalitas, forensik, dan konseling. Analisis tulisan tangan sangat penting dalam menentukan apa ada dokumen yang dipalsukan, karena masih tetap bergantung pada fakta bahwa tiap orang menulis dengan cara yang berbeda dan variasi sekecil apapun bisa diketahui. Grafologi juga bisa digunakan para ahli untuk mendiagnosis penyakit mental, dan bisa digunakan oleh polisi untuk mendapatkan gambaran tentang kesehatan mental dari tersangka.

Jadi bagaimana anda bisa menggunakan grafologi dalam kehidupan sehari-hari? Anda bisa menggunakannya untuk mendapatkan ide yang keren tentang karakter dan kemampuan diri anda, dan juga untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam dari teman dan juga keluarga anda. Kalau anda bisa melihat tulisan tangan seorang cowok atau cewek, ini bisa memberi anda petunjuk seperti seberapa bagus dia bila menjadi teman kencan dan apakah anda berdua akan cocok atau mengalami kendala dalam menjalani hubungan.

Bagi anda yang menaruh minat dan ingin mempelajari grafologi, perlu diingat bahwa grafologi, seperti seni lainnya, perlu diperlakukan dengan hormat. Sangat tidak adil untuk mengambil contoh tulisan tangan seseorang lalu dibagi-bagikan ke teman-teman anda tanpa diketahui orang tersebut! Juga, jangan menyuruh orang untuk memberi contoh tulisannya tanpa sepengetahuan mereka.

Mereka punya hak untuk menjaga privasinya, dan anda akan punya kesenangan yang lebih banyak lagi dengan tulisan orang yang benar-benar mau ambil bagian dan yang bakal memberi tahu kalau anda ‘bisa menilai’ apa tidak-dengan begitu anda belajar lebih banyak lagi. Dalam grafologi juga, seseorang akan semakin ahli sejalan dengan jam terbang (learning by doing).

Majalah Grey edisi 69 Feb-March 2009

(www.psikologizone.com)